Parna Raya Bangun Pabrik Nitrat Terintegrasi Senilai Rp4,9 Triliun di Gresik

HeadlineNews

Industri petrokimia nasional telah memasuki fase baru seiring dengan dimulainya pembangunan Integrated Nitrate Complex Plant milik Parna Raya Group di Kawasan Industri Maspion (MIE), Gresik, Jawa Timur yang bernilai lebih dari US$300 juta atau sekitar Rp4,9 triliun.

Adapun dimulainya pembangunan proyek ini ditandai dengan pelaksanaan peletakkan batu pertama atau groundbreaking yang dilaksanakan pada Jumat (8/5/2026).

Melalui anak usahanya, PT Bara Blasting Perkasa (BBP), Parna Raya dikabarkan akan membangun fasilitas produksi terintegrasi yang mencakup Nitric Acid, Ammonium Nitrate, dan NPK Nitrate dalam satu kawasan industri.

Pembangunan fasilitas ini dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat rantai pasok industri pertambangan, bahan peledak, hingga sektor pertanian nasional.

Proyek bernilai fantastis tersebut digadang – gadang akan menjadi salah satu motor penggerak hilirisasi industri strategis di Indonesia yang diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.

Secara proyeksi, fasilitas tersebut diperkirakan dapat menekan impor Ammonium Nitrate hingga 90 persen dan impor NPK Nitrate sampai 95 persen. Sementara kebutuhan Nitric Acid domestik diproyeksikan dapat dikurangi hingga 50 persen melalui peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Dari sisi rantai pasok, proyek ini dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Bahan baku utama berupa Anhydrous Ammonia akan dipasok oleh PT Kaltim Parna Industri di Bontang, Kalimantan Timur. Dukungan penyimpanan amonia juga disiapkan melalui terminal milik PT Parna Maspion Sejahtra di Gresik, sehingga proses distribusi dan produksi dinilai lebih efisien.

Pada tahap operasional, pabrik Nitric Acid dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 455 metric ton per hari (MTPD), sementara Ammonium Nitrate mencapai 240 MTPD dan NPK Nitrate sebesar 909 MTPD.

Teknologi proses yang digunakan mengandalkan lisensi dari Casale dan Azotec, sedangkan pengerjaan EPC dipercayakan kepada Wuhuan Engineering Co. Ltd asal Wuhan, China.

Vice President Wuhuan Engineering, Yin Lin, menyampaikan optimismenya bahwa proyek dapat diselesaikan sesuai jadwal dengan tetap mengedepankan standar keselamatan dan pemanfaatan teknologi terkini. Ia juga menekankan bahwa mayoritas tenaga kerja yang terlibat dalam proyek berasal dari Indonesia.

Direktur BBP Mei Suryawan bersama Project Director Nahot P. Napitupulu menilai pembangunan kompleks nitrat terintegrasi ini akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan aktivitas industri hilir dan pendapatan daerah.

Dukungan terhadap proyek juga datang dari kalangan industri nasional. Pemilik Maspion Group, Alim Markus, menyampaikan apresiasinya terhadap ekspansi investasi Parna Raya di sektor petrokimia dalam negeri. Dalam seremoni groundbreaking, ia turut mengajak masyarakat untuk semakin mencintai produk-produk Indonesia.

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menilai proyek ini menjadi tonggak penting dalam penguatan ekosistem industri strategis di Jawa Timur. Pemerintah daerah, menurutnya, siap memberikan dukungan penuh agar investasi berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Sesuai jadwal, proyek akan memasuki tahap konstruksi dan instalasi sepanjang 2027 sebelum ditargetkan menjalani proses commissioning dan mulai beroperasi pada akhir tahun yang sama.

Back to top button