Microsoft Percepat Pembangunan Data Center JKT09 di Karawang
Microsoft Indonesia terus mempercepat pembangunan pusat data (data center) JKT09 di Karawang sebagai bagian dari ekspansi infrastruktur cloud dan kecerdasan artifisial (AI) di Tanah Air.
Proyek ini menjadi elemen penting dalam strategi investasi perusahaan senilai US$1,7 miliar untuk periode 2024–2028.
Dalam kunjungan ke lokasi proyek, bangunan infrastruktur JKT09 tampak hampir rampung. Dimana jaringan konektivitas data, instalasi kelistrikan, serta area pendingin server dilaporkan telah terpasang. Begitu pun dengan sejumlah perangkat disebut masih terbungkus pelindung dan siap untuk diaktifkan.
Kemudian di sekitar kawasan, pembangunan fasilitas pendukung, termasuk infrastruktur penunjang pemanfaatan energi ramah lingkungan juga terus berlangsung sebagai bentuk upaya Microsoft dalam rangka mendukung target net zero karbon.
Southeast Asia Sub-regional Construction Director Gavin Hodge menjelaskan bahwa data center JKT09 merupakan bagian dari data center Microsoft di kawasan Karawang. Khusus untuk JKT09, Fasilitas ini memiliki kapasitas hingga 48 megawatt (MW) serta didukung dua unit storage data center.
Namun tak berhenti sampai disitu, Microsoft ke depannya juga berencana menambah tiga fasilitas lain yakni JKT13, JKT14, dan JKT43, sehingga total akan terdapat lima data center di kawasan tersebut, termasuk JKT02 yang telah beroperasi.
Dalam proses pembangunannya, Microsoft akan memperhatikan berbagai aspek mulai dari perlindungan lingkungan, efisiensi energi, hingga keselamatan pekerja.
JKT09 menjadi proyek pertama Microsoft di Asia Tenggara yang menerapkan strategi konstruksi Prefabrication, Preassembly Modularization, and Offsite Fabrication (PPMOF).
Strategi ini memungkinkan komponen bangunan diproduksi atau dirakit di luar lokasi proyek sebelum dipasang di lapangan, sehingga meningkatkan efisiensi dan menekan risiko konstruksi.
Penerapan PPMOF dinilai mampu mempercepat durasi proyek secara signifikan, meningkatkan produktivitas, serta mengurangi kebutuhan tenaga kerja di lokasi. Selain itu, pendekatan ini membantu meminimalkan risiko akibat cuaca, keterbatasan tenaga terampil, hingga gangguan rantai pasok.
Kualitas konstruksi pun lebih terkontrol karena dilakukan di lingkungan pabrik, sementara limbah material dapat ditekan dan jadwal proyek menjadi lebih terprediksi.
Dalam konteks JKT09, strategi tersebut memungkinkan pembangunan berlangsung lebih cepat sekaligus menurunkan potensi kecelakaan kerja karena jumlah pekerja di lokasi lebih terbatas.
Sementara itu, APAC Cloud Operations & Innovation Leader Microsoft, Alvin Heng, menjelaskan bahwa di dalam JKT09 akan terdapat lima colocation (colo) yang masing-masing terdiri atas beberapa cell. Setiap cell akan menampung belasan hingga puluhan rak server. Setiap rak dilengkapi dua sistem pendingin cair (liquid cooling) serta empat jalur pasokan listrik guna memastikan keandalan layanan.
Dalam mengusung konsep keberlanjutan, Microsoft menaruh perhatian besar pada efisiensi penggunaan air. Sistem pendingin dirancang dengan sirkulasi tertutup sehingga air yang digunakan berputar dalam jalur yang sama dan tidak terbuang, sebagai bagian dari upaya konservasi sumber daya.
Aspek keamanan, residensi data, dan kepatuhan regulasi juga menjadi prioritas utama. Dengan infrastruktur ini, pelanggan diharapkan dapat menyimpan dan memproses data secara lokal di Indonesia.
Pusat data Microsoft dilengkapi kontrol keamanan berlapis yang mencakup perlindungan fisik, jaringan, enkripsi, manajemen identitas, hingga akses, selaras dengan standar global perusahaan.
Secara keseluruhan, infrastruktur JKT09 dirancang sejalan dengan target keberlanjutan global Microsoft, termasuk komitmen menjadi karbon negatif dan mencapai nol limbah pada 2030.
Pembangunan data center ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang Microsoft untuk memperkuat ekosistem cloud dan AI di Indonesia, termasuk pengembangan talenta digital.
Kehadiran fasilitas ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital global. Berbagai sektor, mulai dari layanan keuangan, energi, kesehatan, manufaktur, pendidikan, hingga perusahaan digitalnative, menjadi target utama pemanfaatan layanan pusat data tersebut.















