Jawa Timur Ditopang 2.262 Kilometer Jalan Nasional dan Segera Dilengkapi Segmen Akhir Tol Trans Jawa

HeadlineNews

Jawa Timur menjadi provinsi dengan jaringan jalan terpanjang di Indonesia. Mengutip data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, Jawa Timur memiliki total panjang jaringan jalan sepanjang 42.976 kilometer, yang terdiri dari jalan provinsi, jalan nasional, dan jalan kabupaten/kota.

Dari jumlah tersebut, sepanjang 2.262 kilometer, merupakan jalan nasional yang membentang dari wilayah barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Menghubungkan berbagai titik jaringan infrastruktur di sepanjang daerah Jawa Timur. Menjadi tulang punggung konektivitas antardaerah.

Jawa Timur juga akan menjadi ujung dari Tol Trans Jawa yang menjadi Proyek Nasional Strategis sejak tahun 2019, era kepemimpinan Joko Widodo, dan kembali dilanjutkan pada era kepresidenan Prabowo Subianto.

Dok. Tangkapan Layar Kanal Youtube Wakil Presiden Republik Indonesia

Jawa Timur meresmikan jalan tol pertamanya pada 1986. Memulai konstruksi pada tahun 1984, jalan tol Surabaya-Gempol menjadi jalan bebas hambatan pertama di Jawa Timur, sepanjang 49 kilometer, menghubungkan kota Surabaya dengan Kabupaten Pasuruan. Jalan Tol Surabaya-Gempol dikelola oleh PT Jasamarga Transjawa Tol, anak perusahaan dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan telah terintegrasi dengan Tol Surabaya-Mojokerto, Jalan Tol Surabaya-Gresik, Jalan Tol Gempol-Pandaan dan Jalan Tol Waru-Juanda. Saat ini, tol Surabaya-Gempol menjadi mainline dari jaringan jalan Tol Trans Jawa.

Jalan Tol Trans Jawa sudah dicanangkan sejak 1978 dari kepemimpinan Soeharto hingga Prabowo Subianto. Berawal dari diresmikannya jalan tol pertama di Indonesia, yaitu Tol Jakarta-Bogor-Ciawi, jalan tol ini menjadi kepingan awal dari Tol Trans Jawa.

Tol Trans Jawa akan menjadi penghubung dari  lima provinsi di Pulau Jawa, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tol Trans Jawa berkembang secara bertahap selama beberapa dekade, membentang dari Merak hingga Probolinggo.  Pembangunan memberikan dampak positif pada pengembangan wilayah di sepanjang Jalan Tol Trans Jawa.

Tol Probolinggo–Banyuwangi akan menjadi kepingan terakhir dari Tol Trans Jawa yang telah dicetuskan sejak tahun 70-an. PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi (JPB), anak perusahaan dari PT Jasa Marga sebagai pengelola proyek, terus mengebut pembangunan Tol Trans Jawa. Seksi 1 (Gending-Krasan) sepanjang 12,88 kilometer, Seksi 2 (Krasan-Paiton) sepanjang 11,20 kilometer telah rampung 100 persen dan telah mengantongi sertifikat Laik Fungsi dan Operasional (SLFO). Seksi 3 (Paiton-Besuki) sepanjang 25,6 kilometer memasuki fase akhir penyelesaian administrasi serta Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO).

Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi menyambungkan wilayah Tapal Kuda Jawa Timur hingga Pelabuhan Ketapang, memangkas jarak tempuh Probolinggo-Banyuwangi yang sebelumnya memakan waktu 5 jam menjadi 3 jam saja.

Dok. Tangkapan Layar Kanal Youtube Wakil Presiden Republik Indonesia

Dikutip Selasa (14/07/2026), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka didampingi oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau progres jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi. Dalam kunjungannya, Gibran mendorong percepatan penyelesaian Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi agar dapat memberikan peluang investasi dan membuka lapangan kerja di Jawa Timur.

Jalan tol Probolinggo-Banyuwangi diproyeksikan tuntas pada akhir 2026. Akan dikelola oleh 20 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) milik negara maupun swasta, 13 BUJT milik PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan tujuh BUJT milik swasta.

Di samping jaringan jalan Tol Trans Jawa yang terus dikebut, keberadaan jalan nasional yang merupakan penghubung utama antarwilayah di Jawa Timur serta penopang mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik juga perlu menjadi perhatian. Jawa Timur memiliki jalur nasional yang membentang sepanjang 2.262 kilometer. Jalan nasional di Jawa Timur masih menjadi elemen penting dalam mobilitas warga dan mendukung aktivitas ekonomi.

Dok. Binamarga.pu.go.id

Peningkatan dan pemeliharaan kualitas jalan nasional juga perlu menjadi prioritas pemerintah daerah. Kesiapan infrastruktur dapat memastikan konektivitas dan keselamatan perjalanan masyarakat. Sebagai penghubung antarkabupaten/kota hingga akses menuju kawasan industri, pelabuhan, dan pusat logistik, keberadaan jalan nasional menjadi bagian penting dari rantai distribusi barang dan jasa. Infrastruktur ini juga melengkapi fungsi jalan tol dengan menjangkau lebih banyak kawasan, sehingga konektivitas tidak hanya terpusat pada koridor utama, tetapi juga mampu menghubungkan sentra produksi, perdagangan, dan permukiman.

Jawa Timur bukan hanya menjadi ujung Tol Trans Jawa, tetapi juga menjadi simpul logistik yang menghubungkan kawasan industri, pelabuhan, dan jalur distribusi.

Hal tersebut tercermin dari ditetapkannya Java Integrated Industrial and Port Estate sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Gresik, Jawa Timur. Kawasan industri pertama di Indonesia yang terintegrasi langsung dengan pelabuhan laut dalam merupakan hasil kolaborasi antara swasta dan BUMN. Kolaborasi dari anak perusahaan BUMN PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dengan PT AKR Corporindo Tbk.

Dok. jiipe.com

JIIPE memiliki ketersediaan utilitas yang dibutuhkan oleh industri seperti pembangkit listrik, air tawar industri, pengelolaan limbah, pasokan gas, dan jaringan telekomunikasi, yang membuat JIIPE menjadi tujuan investasi utama di Indonesia.

Adanya Jalan Tol Trans Jawa, jaringan jalan nasional sepanjang 2.262 kilometer di Jawa Timur, hingga kawasan strategis Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) menunjukkan bahwa konektivitas tidak dapat dibangun oleh satu infrastruktur saja. Sinergi antarjaringan infrastruktur tersebut menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem logistik yang lebih efisien, meningkatkan daya saing kawasan, dan mendorong pemerataan pembangunan berkelanjutan.

Back to top button