Rel MRT Jakarta Fase 1 dan 2A Tersambung, Proyek Lintas Bundaran HI – Kota Masuki Tahap Krusial

Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A mencatat tonggak penting dengan tersambungnya rel antara Fase 1 dan Fase 2A. Penyambungan ini terjadi setelah rampungnya pengecoran track bed atau lapisan dasar rel di terowongan arah utara (northbound) yang menghubungkan Stasiun Bundaran HI dan Stasiun Thamrin.
Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda), Weni Maulina, menjelaskan bahwa pekerjaan selanjutnya akan difokuskan pada pengecoran track bed untuk terowongan arah selatan (southbound) di lintas yang sama. Tahapan ini dilakukan seiring kesiapan proyek untuk memasuki instalasi pintu tepi peron atau platform screen door.
Setelah segmen Bundaran HI–Thamrin tersambung, pekerjaan konstruksi akan dilanjutkan ke lintas Thamrin–Monas untuk kedua arah.
Seluruh pekerjaan pengecoran track bed di terowongan ditargetkan selesai pada akhir 2026, sementara pekerjaan sipil secara keseluruhan ditargetkan rampung pada akhir 2027.
Dengan demikian, tahapan integrasi, pengujian, dan komisioning dapat segera dilakukan sebelum segmen Bundaran HI–Monas dioperasikan.
Secara keseluruhan, progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A lintas utara–selatan hingga Maret 2026 telah mencapai 59,19 persen, melampaui target yang ditetapkan sebesar 57,52 persen. PT MRT Jakarta menargetkan segmen Bundaran HI–Monas dapat beroperasi pada akhir 2027, sementara kelanjutan hingga Stasiun Kota dijadwalkan selesai pada 2029.
Fase 2A akan membentang sepanjang kurang lebih 5,8 kilometer dari Bundaran HI hingga Kota, dengan tujuh stasiun bawah tanah, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Proyek ini juga dikembangkan dengan pendekatan transit-oriented development (TOD) yang mengintegrasikan transportasi publik dengan ruang kota dan aktivitas masyarakat.
Dari sisi teknis, rel yang digunakan diproduksi oleh Nippon Steel, Jepang, dengan sistem direct fixation track berbasis bantalan beton prategang (PC Sleeper) yang dirancang memiliki umur layanan hingga 50 tahun dengan kebutuhan perawatan minimal. Pada bagian tertentu seperti wesel dan persilangan, digunakan bantalan sintetis berbahan serat kaca dan busa poliuretan yang memiliki ketahanan tinggi terhadap air, bahan kimia, serta mampu memberikan isolasi listrik yang baik.
Metode penyambungan rel menggunakan sistem Continuous Welded Rail (CWR) dengan teknik flash butt welding dan thermit welding. Teknik flash butt welding dinilai mampu menghasilkan sambungan dengan kekuatan mendekati material asli serta lebih tahan terhadap perubahan suhu ekstrem.
Dari sisi progres paket pekerjaan, sejumlah kontrak menunjukkan capaian signifikan. Paket CP201 telah mencapai 92,3 persen, CP202 sebesar 64,13 persen, dan CP203 sebesar 83,72 persen. Sementara itu, paket CP205 yang mencakup sistem perkeretaapian telah mencapai 42,69 persen dan mulai memasuki tahap pengecoran track bed, dengan panjang segmen Bundaran HI–Monas yang telah dikerjakan mencapai 769 meter hingga Maret 2026.
Dengan capaian tersebut, proyek MRT Jakarta Fase 2A memasuki fase konstruksi yang semakin krusial, sekaligus memperkuat harapan akan terwujudnya sistem transportasi massal yang terintegrasi dan berkelanjutan di ibu kota.
















