Serap 200 Ribu Pekerja, HK Targetkan 827 Km Jalan Tol Trans Sumatra Tuntas Akhir Tahun

News

PT Hutama Karya (Persero), salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi ini menargetkan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) sepanjang 827 kilometer dapat diselesaikan hingga akhir 2022.

Untuk pembangunan pada tahun ini, Koentjoro selaku Direktur Operasi III Hutama Karya menyebut pihaknya fokus pada peningkatan kinerja, khususnya terkait peningkatan aset seperti percepatan penyelesaian penugasan JTTS.

Selain fokus pada peningkatan kinerja, Ia mengaku pihaknya juga melakukan strategi bisnis pada semester II/2022 seperti melaksanakan akselerasi perolehan kontrak baru, menjaga konsistensi efisiensi biaya, penyelesaian JTTS sesuai target terbangun 2022, pelaksanaan kerjasama investasi untuk percepatan pembangunan JTTS, hingga upaya lindung nilai yang sesuai dengan arus kas perseroan.

Hutama Karya diketahui telah menyerap tenaga kerja sebanyak lebih dari 200.000 orang pada proyek JTTS yang terhitung sejak awal pembangunan hingga beroperasional dengan rentang waktu dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2022.

Jumlah tenaga kerja tersebut tersebar di 14 proyek pembangunan JTTS yaitu pembangunan ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, Terbanggi Besar -Pematang Panggang -Kayu Agung, Palembang-Indralaya, Pekanbaru-Dumai, Medan-Binjai,Padang-Sicincin, Indrapura-Kisaran, Sigli-Banda Aceh, Pekanbaru-Bangkinang,Bangkinang-Pangkalan, SP Indralaya-Prabumulih, Bengkulu-Taba Penanjung, Prabumulih-Muara Enim, dan Binjai-Langsa.

Dari 14 proyek tersebut, salah satu diantaranya tercatat sebagai proyek JTTS yang menyerap tenaga kerja terbesar yakni proyek pembangunan tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung dengan jumlah pekerja sebanyak 45.357 orang.

Jumlah pekerja tersebut terdiri dari karyawan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) selaku owner yang terdiri dari Project Director, Manager, dan Officer; Tim Supervisi (Konsultan Pengawas) terdiri dari Project Engineer, Chief Inspector di berbagai bidang, Quality Engineer, Quantity Enginner, QHSSE dan asistennya.

Kemudian tim Kontraktor yang terdiri dari Project Manager, Site Engineer Manager, Site Operation Manager, dan Site Administration Manager serta masing-masing officernya.

Adapun tenaga kerja yang mendominasi dengan jumlah terbanyak yakni pekerja konstruksi. Mulai dari mandor, tukang dan para pekerja lainnya yang datang dari daerah setempat.

Penyerapan tenaga kerja tidak hanya terjadi selama proses konstruksi. Setelah beroperasi, proyek JTTS nantinya juga dinilai dapat membuka peluang kerja dan menyerap banyak tenaga kerja.

Hal ini ditandai dengan adanya tenaga kerja di 7 ruas JTTS yang sudah dioperasikan oleh Hutama Karya yang berjumlah sekitar 1.980 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.641 orang tenaga kerja ditempatkan di layanan operasi jalan tol dan sebanyak 339 orang tenaga kerja ditempatkan di layanan rest area.

Koentjoro mengungkapkan bahwa penyerapan tenaga kerja tersebut akan terus meningkat seiring bertambahnya ruas baru yang akan mulai beroperasi yaitu ruas Bengkulu-Taba Penanjung dan Pekanbaru-Bangkinang.

Selain menyerap tenaga kerja, JTTS juga memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatra.

Pasalnya, terbangunnya JTTS secara penuh dinilai dapat mendorong industri dan aktivitas ekonomi untuk tumbuh secara optimal dengan memanfaatkan skala ekonomi, meningkatnya aktivitas ekspor dan impor, pemanfaatan infrastruktur maritim yang optimal karena terbukanya akses ke pedalaman dan hinterland, biaya logistik yang kompetitif, efek spill over penuh dari daerah ke daerah dan sektor ke sektor serta spesialisasi regional yang optimal serta berkembangnya seluruh kabupaten dan kota.

Back to top button
formbukudirekrorigapensi