Tiga Sekolah Nasional Terintegrasi Akan Dibangun di NTT
Pemerintah menyiapkan pembangunan fasilitas permanen SNT di Kupang, Sumba Tengah, dan Sumba Timur, dengan persiapan lahan dan administrasi yang masih berlangsung.

Pemerataan akses pendidikan berkualitas di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan diperkuat melalui rencana pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di tiga kabupaten yang ditargetkan akan berlangsung pada akhir tahun 2026.
Sekolah yang dirancang dengan fasilitas pendidikan modern dan berstandar internasional ini akan dibangun di Kabupaten Kupang, Sumba Tengah, dan Sumba Timur dengan kebutuhan anggaran yang diperkirakan mencapai Rp250 miliar hingga Rp300 miliar untuk setiap lokasinya.
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT, Irfan Karim pada Senin (19/10/2026), menjelaskan bahwa besarnya kebutuhan anggaran tersebut disesuaikan dengan standar fasilitas yang akan dibangun, termasuk lapangan sepak bola yang direncanakan memenuhi standar FIFA.
Selain memperhitungkan kebutuhan anggaran dan standar fasilitas yang akan dibangun, pemerintah juga mulai mempersiapkan lahan untuk pembangunan.
Pengukuran dan survei lahan telah dilakukan di ketiga lokasi yang direncanakan, sementara sejumlah persyaratan administratif masih dalam proses penyelesaian sebelum pekerjaan konstruksi dapat dimulai.
Untuk memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, BPMP NTT terus menjalin komunikasi secara intensif dengan pemerintah daerah terkait untuk memastikan sejauh mana kesiapan lahan dan kelengkapan administrasi.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari beberapa sumber, Persiapan di masing-masing daerah menunjukkan perkembangan yang berbeda.
SNT di Kabupaten Kupang telah menjalankan kegiatan pendidikan sejak tahun ajaran 2026/2027 dengan nama SNT 10 Kupang, meskipun pembangunan fasilitas permanennya baru direncanakan dimulai sekitar November 2026.
Sementara itu, Sumba Tengah telah memenuhi persyaratan utama dan tinggal menyelesaikan sejumlah dokumen administratif. Adapun Sumba Timur masih memerlukan kelengkapan persyaratan pendukung, termasuk pertimbangan teknis pertanahan.
Kedua sekolah di Pulau Sumba tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2027 untuk melayani jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).
Dalam perencanaannya, pemerintah sempat mempertimbangkan dua pendekatan pembangunan SNT, yakni mendirikan sekolah baru di atas lahan seluas sekitar 20–30 hektare atau mengintegrasikan sekolah yang telah beroperasi.
Namun, berdasarkan hasil kajian, pendekatan kedua dinilai lebih rumit karena memerlukan pemindahan peserta didik dan tenaga pendidikan serta penyesuaian pengelolaan sekolah.
Oleh karena itu, pembangunan fasilitas baru menjadi pendekatan yang diprioritaskan. BPMP NTT terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan lahan dan kelengkapan administrasi. Irfan berharap kehadiran SNT dapat mempercepat pemerataan mutu pendidikan sekaligus memperluas kesempatan masyarakat NTT memperoleh layanan pendidikan berkualitas.
Secara nasional, pembangunan SNT merupakan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menargetkan pengembangan 500 layanan pendidikan hingga 2029.
Program ini dirancang untuk mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pengelolaan dan ekosistem pembelajaran, dengan dukungan fasilitas yang dapat dimanfaatkan secara bersama.
Dari sisi kurikulum, SNT tetap menggunakan kurikulum nasional yang diperkaya melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports (STEAMS). Pembelajaran tersebut dipadukan dengan penguatan kompetensi global serta pengembangan potensi lokal sesuai karakteristik masing-masing daerah.
Konsep penyelenggaraannya juga berbeda dengan Sekolah Rakyat di bawah Kementerian Sosial yang berfokus pada anak dari keluarga kurang mampu, maupun SMA Unggul Garuda di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang berorientasi pada pengembangan talenta unggul di bidang sains dan teknologi.
SNT sendiri dirancang sebagai sekolah negeri tanpa asrama dengan biaya pendidikan yang ditanggung pemerintah.
Selain memberikan layanan pendidikan bagi peserta didiknya, SNT diharapkan menjadi pusat pengembangan mutu pendidikan di daerah.
Melalui pemanfaatan fasilitas bersama, peningkatan kompetensi guru, serta pertukaran praktik pembelajaran, manfaat program ini ditargetkan dapat menjangkau sekolah-sekolah lain di wilayah sekitarnya.














