Pembangunan Bendungan Bagong Trenggalek Capai Progres 61,12 Persen, Ditargetkan Rampung 2028

News

Pembangunan Bendungan Bagong di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terus dikebut untuk memperkuat sistem pengendalian banjir dan memenuhi kebutuhan air masyarakat.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bagong, Senna Ananggadipa Adhitama, pada Kamis (29/10/2026), progres pembangunan bendungan tersebut secara keseluruhan telah mencapai 61,12 persen.

Proyek yang berlokasi di Desa Sumurup dan Desa Sengon, Kecamatan Bendungan, ini terdiri dari empat paket pekerjaan konstruksi.

Dari jumlah tersebut, pelaksanaan pekerjaan paket 1 hingga paket 3 telah mencapai progres sekitar 85 persen. Sementara itu, paket 4 masih belum memasuki tahap kontrak.

Adapun pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh dua kelompok kontraktor melalui skema kerja sama operasi (KSO), yaitu:

  1. PT Brantas Abipraya (Persero) bersama PT SAC Nusantara.
  2. PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk bersama PT Jatiwangi.

Meski pembangunan terus dikebut, pelaksana proyek tetap mengutamakan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Perlindungan Lingkungan (K3L) dalam setiap tahapan konstruksi.

Menurut Site QHSE Manager PT Brantas Abipraya, Septian Adi Saputra, penerapan K3L dilakukan melalui berbagai langkah pengendalian risiko untuk menjaga keselamatan pekerja sekaligus melindungi lingkungan di sekitar proyek.

Langkah tersebut mencakup pengarahan keselamatan sebelum bekerja, inspeksi rutin, pemeriksaan kelayakan peralatan, analisis risiko pekerjaan, serta pengawasan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.

Selain itu, sejumlah program keselamatan juga diterapkan secara berkelanjutan, antara lain:

  • Toolbox Meeting (TBM) dan Safety Talk sebagai sarana pengarahan keselamatan kepada pekerja.
  • Safety Induction untuk memberikan pemahaman mengenai prosedur keselamatan di lingkungan proyek.
  • Safety Patrol dan inspeksi harian untuk mengidentifikasi potensi bahaya di area konstruksi.
  • Job Safety Analysis (JSA) untuk menganalisis risiko sebelum pekerjaan dilaksanakan.
  • Permit to Work atau sistem izin kerja untuk memastikan pekerjaan tertentu memenuhi persyaratan keselamatan.
  • Fit to Work untuk memeriksa kesiapan pekerja sebelum menjalankan tugas.

Penerapan prosedur tersebut juga didukung dengan pengawasan penggunaan alat pelindung diri (APD), pemeriksaan peralatan dan mesin kerja, serta penataan area konstruksi agar tetap aman.

Dalam pelaksanaannya, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas turut melakukan pengawasan dan evaluasi bersama kontraktor serta konsultan pengawas.

Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan setiap potensi bahaya dapat diidentifikasi dan temuan terkait keselamatan segera ditindaklanjuti.

Di sisi lain, peningkatan kinerja K3L juga didukung melalui audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), rapat tinjauan manajemen, pelatihan keselamatan, serta kegiatan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).

Pelaksana proyek juga merencanakan simulasi keadaan darurat guna meningkatkan kesiapsiagaan pekerja apabila terjadi insiden selama proses konstruksi.

Lalu, apa saja manfaat yang akan dihasilkan Bendungan Bagong setelah beroperasi?

Sebagai salah satu infrastruktur sumber daya air di Kabupaten Trenggalek, Bendungan Bagong dirancang untuk mendukung pengendalian banjir dengan cakupan reduksi banjir seluas 85,61 hektare.

Bendungan ini juga diproyeksikan mampu menyediakan layanan irigasi untuk lahan pertanian seluas 977 hektare serta memasok air baku sebesar 153 liter per detik.

Menurut Senna, keberadaan Bendungan Bagong nantinya akan melengkapi fungsi Bendungan Tugu yang telah lebih dahulu beroperasi.

Kedua bendungan tersebut diharapkan dapat mengendalikan aliran air dari wilayah yang berbeda menuju kawasan perkotaan Trenggalek.

Bendungan Tugu berfungsi mengendalikan aliran air dari wilayah Ponorogo dan Kecamatan Tugu, sedangkan Bendungan Bagong akan membantu mengendalikan aliran air dari Kecamatan Bendungan.

Dengan beroperasinya kedua bendungan tersebut, sistem pengendalian banjir di wilayah perkotaan maupun kawasan hilir Trenggalek diharapkan menjadi lebih optimal.

Tidak hanya itu, tampungan air Bendungan Bagong juga akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan irigasi, sehingga aktivitas pertanian tetap dapat berlangsung ketika memasuki musim kemarau.

Menariknya, infrastruktur ini juga memiliki potensi pengembangan energi terbarukan. Area genangan Bendungan Bagong diproyeksikan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung berkapasitas 18 megawatt (MW).

Selain PLTS terapung, terdapat pula potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 1,5 MW.

Bendungan Bagong juga direncanakan mendukung konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bagong sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya air di wilayah tersebut.

Dengan berbagai fungsi yang direncanakan, penyelesaian Bendungan Bagong menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat infrastruktur pengendalian banjir, meningkatkan ketahanan air, serta mendukung pengembangan potensi energi terbarukan di Kabupaten Trenggalek.

Keberadaan bendungan ini nantinya diharapkan dapat membantu mengurangi risiko banjir di wilayah perkotaan Trenggalek, sekaligus menjaga ketersediaan air untuk sektor pertanian, terutama saat musim kemarau.

Back to top button