Progres Flyover Sitinjau Lauik Capai 35,27 Persen, Jembatan 1 Rampung dan Pemasangan Girder Berlanjut

Hutama Karya melanjutkan konstruksi Flyover Panorama I melalui pemasangan girder Jembatan 3 segmen A1–P1, sementara pekerjaan berikutnya difokuskan pada Jembatan 2.

News

Jalur Sitinjau Lauik di Sumatra Barat selama ini dikenal sebagai salah satu ruas jalan dengan medan yang cukup menantang. Tanjakan curam dan tikungan tajam menjadi persoalan bagi kendaraan yang melintasi jalur penghubung Kota Padang dan Kota Solok tersebut.

Kondisi geografis tersebut tidak hanya memengaruhi kelancaran arus kendaraan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama bagi kendaraan besar yang mengangkut barang.

Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) tengah membangun Flyover Panorama I atau Sitinjau Lauik I.

Proyek infrastruktur dengan nilai investasi sekitar Rp2,973 triliun yang dirancang memiliki panjang 2,829 kilometer tersebut menunjukkan perkembangan konstruksi yang cukup signifikan.

Berdasarkan informasi terbaru yang disampaikan PT Hutama Karya (Persero), progres fisik pembangunan Flyover Sitinjau Lauik telah mencapai angka 35,275 persen hingga 23 Oktober 2026.

Capaian tersebut ditandai dengan rampungnya pekerjaan Jembatan 1, yang kemudian dilanjutkan dengan pemasangan girder pada Jembatan 3 segmen A1–P1 pada 26–27 Oktober 2026.

Setelah tahapan tersebut selesai, pekerjaan konstruksi berikutnya akan difokuskan pada pembangunan Jembatan 2 serta sejumlah pekerjaan lainnya untuk mendukung pencapaian target penyelesaian proyek.

Dalam pelaksanaannya, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero) bersama PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) melalui Kerja Sama Operasi (KSO) HK-HKI. Sementara itu, PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) bertindak sebagai Badan Usaha Pelaksana (BUP) yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan proyek melalui skema KPBU.

Adapun untuk pengerjaan proyek dilaksanakan menggunakan skema KPBU dengan masa konsesi selama 13,1 tahun, yang terdiri atas 3,1 tahun masa konstruksi dan 10 tahun masa layanan.

Penyelesaian konstruksinya ditargetkan berlangsung pada periode akhir 2027 hingga Mei 2028, sebelum infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas transportasi masyarakat.

Untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan di kawasan dengan kondisi geografis yang menantang, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik juga menerapkan sejumlah teknologi konstruksi modern.

Beberapa teknologi yang diterapkan dalam proyek tersebut meliputi:

  • Lead Rubber Bearing (LRB) : sistem bantalan struktur untuk membantu meningkatkan ketahanan jembatan terhadap pergerakan dan beban dinamis.
  • Structural Health Monitoring System (SHMS) : teknologi pemantauan kondisi dan kinerja struktur jembatan.
  • Drone LiDAR : teknologi pemetaan yang mendukung pengumpulan data kondisi permukaan dan topografi.
  • Building Information Modeling (BIM) : sistem pemodelan digital untuk mendukung perencanaan dan koordinasi konstruksi.
  • Common Data Environment (CDE) : platform pengelolaan informasi proyek secara terintegrasi.
  • Augmented Reality (AR) : teknologi visualisasi digital yang dapat membantu proses koordinasi dan pelaksanaan pekerjaan.

Penerapan berbagai teknologi tersebut ditujukan untuk mendukung ketahanan struktur, efektivitas pemantauan, serta efisiensi pelaksanaan pekerjaan.

Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero), Koentjoro, menegaskan bahwa perusahaan terus mengawal setiap tahapan pembangunan dengan memperhatikan aspek kualitas, keselamatan, dan pengendalian pekerjaan.

Oleh karena itu, Koentjoro menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga kelancaran pelaksanaan proyek sekaligus mendukung penyelesaian konstruksi sesuai target.

Sementara itu, Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menilai pembangunan Flyover Panorama I merupakan salah satu prioritas pemerintah dalam meningkatkan keselamatan transportasi dan konektivitas antarwilayah di Sumatra Barat.

Hal tersebut disampaikannya dalam keterangan resmi pada Rabu, 28 Oktober 2026, setelah melakukan peninjauan proyek sehari sebelumnya.

Menurutnya, jalur nasional tersebut memiliki peran penting sebagai penghubung transportasi antarprovinsi yang turut memengaruhi aktivitas perekonomian daerah.

Dony berharap keberadaan flyover tersebut nantinya dapat menjadi solusi jangka panjang bagi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik, sekaligus memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat serta kerja sama seluruh pihak agar pembangunan dapat diselesaikan dengan baik dan manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik, Michael Arthur Paulus Rumenser, menyatakan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat koordinasi dan memastikan pembangunan berlangsung dengan memperhatikan keselamatan serta kualitas konstruksi.

Dengan berlanjutnya pekerjaan konstruksi pada sejumlah struktur jembatan, penyelesaian Flyover Sitinjau Lauik menjadi salah satu langkah penting dalam menghadirkan akses transportasi yang lebih aman dan andal di Sumatra Barat.

Keberhasilan pembangunan infrastruktur ini nantinya diharapkan dapat mengurangi risiko perjalanan di jalur Sitinjau Lauik sekaligus mendukung pergerakan masyarakat dan angkutan barang yang melintasi kawasan tersebut.

Back to top button