Muhammadiyah Siapkan Pabrik Infus Berteknologi Italia, Perkuat Kemandirian Layanan Kesehatan

HeadlineNews

Muhammadiyah tengah mempersiapkan pembangunan pabrik infus yang akan menggunakan teknologi dan peralatan asal Italia.

Pemilihan teknologi tersebut didasarkan pada pertimbangan kualitas, ketahanan, serta efisiensi jangka panjang yang dinilai lebih unggul dibandingkan alternatif lainnya.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menyampaikan bahwa proyek ini direncanakan memasuki tahap peletakan batu pertama pada Mei 2026 di Mojokerto, Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa fasilitas tersebut tidak hanya akan memproduksi cairan infus, tetapi juga berbagai alat kesehatan, termasuk jarum medis.

Pengembangan pabrik ini merupakan bagian dari strategi Muhammadiyah untuk memperkuat ekosistem ekonomi internal Persyarikatan. Dengan jaringan layanan kesehatan yang luas, mencakup sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik, kebutuhan terhadap produk medis dinilai sangat tinggi dan berkelanjutan.

Muhadjir menilai bahwa produksi mandiri menjadi langkah strategis untuk menekan biaya operasional sekaligus menciptakan sistem ekonomi terintegrasi di lingkungan amal usaha Muhammadiyah. Pendekatan ini diarahkan untuk membangun rantai pasok tertutup (closed loop), sehingga ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi.

Selain infus dan jarum suntik, Muhammadiyah juga merencanakan pengembangan produk alat kesehatan sekali pakai lainnya. Namun, pada tahap awal, produksi belum mencakup sektor farmasi atau obat-obatan.

Dari sisi pembiayaan, proyek ini akan mengandalkan skema investasi berbasis saham yang melibatkan jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah–’Aisyiyah (RSMA). Muhadjir mengungkapkan bahwa kebutuhan investasi tergolong besar, terutama karena penggunaan teknologi impor dari Italia yang memiliki standar tinggi, baik dari sisi daya tahan maupun kualitas kemasan.

Meski demikian, Muhammadiyah menargetkan produk yang dihasilkan tetap kompetitif dari sisi harga. Strategi ini sejalan dengan orientasi organisasi yang tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga mengedepankan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Pembangunan pabrik dijadwalkan dimulai pada akhir Mei 2026, dengan target penyelesaian sebelum pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada 2027.

Operasional penuh fasilitas ini direncanakan dimulai pada 2028, dengan harapan mampu memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional sekaligus meningkatkan akses terhadap produk medis yang terjangkau dan berkualitas.

Back to top button