Progres Tol Semarang–Demak Seksi 1 Capai 79,42 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir 2027

Pembangunan ruas Kaligawe–Sayung sepanjang 10,64 km mencakup tiga paket pekerjaan, mulai dari jalan layang, tanggul laut, hingga kolam retensi, dengan konsolidasi tanah pesisir menjadi tantangan konstruksi

News

Banjir rob dan kemacetan lalu lintas masih menjadi dua persoalan utama yang selama ini membayangi kawasan pesisir utara Jawa Tengah, khususnya di wilayah Semarang dan Demak.

Sejumlah upaya untuk mengatasi kedua persoalan tersebut kini terus dilakukan. Salah satunya melalui pembangunan Jalan Tol Semarang – Demak Seksi 1.

Proyek infrastruktur strategis tersebut diharapkan mampu menjawab dua persoalan utama tersebut yang selama ini mengganggu aktivitas masyarakat.

Namun tahukan kamu ? ruas jalan tol ini berbeda dengan jalan tol pada umumnya. Proyek ini tidak hanya dirancang sebagai jalur transportasi, tetapi juga terintegrasi dengan tanggul laut dan sistem pengendalian banjir untuk melindungi kawasan pesisir Semarang dan Demak.

Oleh karena itu, pembangunan ruas tol ini dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi tanah pesisir yang memerlukan penanganan khusus agar konstruksi tetap stabil dan aman dalam jangka panjang.

Lantas, sudah sejauh mana perkembangan pembangunan jalan tol tersebut ?

Berdasarkan informasi yang dirilis Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Menteri PU Dody Hanggodo belum lama ini telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek di Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (24/10/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan pembangunan masih berjalan sesuai rencana, meskipun terdapat sejumlah tahapan konstruksi yang tidak dapat dipercepat karena harus menyesuaikan karakteristik tanah di kawasan pesisir.

Seperti diketahui, Pembangunan Tol Semarang–Demak Seksi 1 terbagi menjadi tiga paket pekerjaan dengan lingkup konstruksi yang berbeda.

Secara keseluruhan, Progres konstruksi Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 ruas Kaligawe–Sayung dilaporkan telah mencapai 79,42 persen per 22 Oktober 2026 dengan rincian progres masing masing paket sebagai berikut :

  1. Paket 1A dengan nilai investasi Rp2,02 triliun mencapai progres sebesar 97,49 persen. Pekerjaan mencakup pembangunan Jembatan Kaligawe, jalan layang, jalan, serta fasilitas pendukung di kawasan Kaligawe dan Sayung.
  2. Paket 1B dengan nilai investasi Rp6,84 triliun mencapai progres sebesar 75,22 persen. Pekerjaan mencakup pembangunan tanggul laut, pelindung pantai (revetment), jalan utama sepanjang 6,73 kilometer, akses masuk dan keluar Terboyo, Jembatan Babon, Jembatan Sayung, area istirahat, gerbang tol, serta fasilitas penunjang lainnya.
  3. Paket 1C dengan nilai investasi Rp2,11 triliun mencapai progres sebesar 75,68 persen. Pekerjaan berfokus pada pembangunan kolam retensi, rumah pompa, dan saluran pendukung untuk mengendalikan aliran air di kawasan pesisir.

Berdasarkan data tersebut, Paket 1A tercatat menjadi bagian dengan perkembangan paling tinggi dengan progres yang dilaporkan telah memasuki tahap akhir konstruksi.

Menurut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengawasan pada Satuan Kerja Pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak, Prasetyo Arief, pekerjaan pada paket tersebut meliputi pembangunan Jembatan Kaligawe, jalan layang, jalan utama, serta sejumlah fasilitas pendukung.

Seluruh konstruksi jalan layang pada Paket 1A dilaporkan telah selesai dan tersambung hingga titik P19 yang terhubung dengan Paket 1B.

Sementara itu, Paket 1B mencakup pekerjaan tanggul laut, struktur pelindung pantai atau revetment, serta jalan utama sepanjang 6,73 kilometer.

Paket ini juga meliputi pembangunan akses masuk dan keluar Terboyo, Jembatan Babon, Jembatan Sayung, tempat istirahat, gerbang tol, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Adapun Paket 1C difokuskan pada pembangunan infrastruktur pengendalian banjir, termasuk Kolam Retensi Terboyo seluas 189 hektare dan Kolam Retensi Sriwulan seluas 28 hektare, beserta rumah pompa dan saluran pendukung.

Kedua kolam retensi tersebut dirancang untuk menampung aliran air dari sejumlah sungai sebelum dialirkan menuju laut melalui sistem pengendalian air yang dilengkapi pompa.

Kondisi Tanah Pesisir Menjadi Tantangan Konstruksi

Meski perkembangan pembangunan menunjukkan hasil positif, penyelesaian Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 masih menghadapi tantangan teknis, terutama pada pekerjaan konstruksi di atas tanah lunak kawasan pesisir.

Kondisi tersebut membuat proses perbaikan dan pemampatan tanah menjadi salah satu tahapan penting yang harus diselesaikan sebelum pekerjaan struktur di atasnya dapat dilanjutkan.

Pada tahap awal, kontraktor menerapkan metode surcharge preloading, yakni pemberian beban timbunan sementara untuk mempercepat proses konsolidasi dan meningkatkan kestabilan tanah.

Pekerjaan ini didukung penggunaan sejumlah material dan teknologi perbaikan tanah, antara lain cerucuk dan matras bambu, geotekstil, prefabricated vertical drain (PVD), prefabricated horizontal drain (PHD), serta material pasir dan tanah timbunan.

Khusus pada Paket 1B, proses preloading beserta masa tunggu konsolidasi tanah direncanakan berlangsung selama 425 hari.

Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan bahwa tahapan tersebut tidak dapat dipercepat secara sembarangan karena tanah harus mencapai tingkat pemampatan yang diperlukan sebelum menerima tambahan beban konstruksi.

Menurutnya, pemenuhan persyaratan teknis tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas struktur sekaligus meminimalkan risiko kerusakan setelah jalan tol beroperasi.

Dengan demikian, percepatan pembangunan tetap harus memperhatikan standar keselamatan dan kualitas konstruksi, terutama mengingat lokasi proyek berada di kawasan pesisir yang memiliki karakteristik tanah berbeda dari wilayah daratan pada umumnya.

Tanggul Laut Mulai Memberikan Manfaat bagi Kawasan Pesisir

Di tengah berlangsungnya pekerjaan konstruksi, pembangunan tanggul laut yang terintegrasi dengan Jalan Tol Semarang–Demak mulai menunjukkan manfaat terhadap penanganan banjir di kawasan Sayung.

Berdasarkan penjelasan Menteri PU, keberadaan tanggul yang telah dibangun dilaporkan mampu mengurangi dampak banjir di kawasan tersebut sehingga kondisi genangan tidak lagi seperti sebelumnya.

Hasil ini menjadi salah satu perkembangan penting mengingat kawasan pesisir Semarang dan Demak selama bertahun-tahun menghadapi persoalan banjir rob yang berdampak pada permukiman, aktivitas ekonomi, dan akses transportasi masyarakat.

Untuk memperluas penanganan banjir pesisir, pekerjaan tanggul selanjutnya direncanakan berlanjut ke kawasan Demak melalui koordinasi dengan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ).

Selain berfungsi sebagai perlindungan pesisir, keberadaan jalan tol ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas transportasi antara Semarang dan Demak.

Kementerian PU memperkirakan waktu tempuh perjalanan yang sebelumnya dapat mencapai sekitar 60 menit saat terjadi kemacetan dapat dipangkas menjadi sekitar 10 menit setelah konektivitas jalan tol berfungsi secara optimal.

Efisiensi tersebut diharapkan mampu memperlancar distribusi barang, meningkatkan akses menuju kawasan industri, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di sepanjang koridor Pantai Utara Jawa Tengah.

Dengan menggabungkan fungsi transportasi, perlindungan pesisir, dan pengendalian banjir dalam satu kawasan infrastruktur, penyelesaian Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan wilayah pesisir terhadap ancaman banjir rob.

Sebagai informasi, Ruas Jalan Tol Seksi 1 Kaligawe–Sayung merupakan bagian dari pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak sepanjang 26,95 kilometer yang terbagi menjadi dua seksi.

Seksi 1 Kaligawe–Sayung sepanjang sekitar 10,64 kilometer masih dalam tahap konstruksi, sedangkan Seksi 2 Sayung–Demak sepanjang 16,31 kilometer telah beroperasi sejak 25 Februari 2023.

Pembangunan Seksi 1 dengan nilai investasi sekitar Rp10,9 triliun diharapkan dapat melengkapi jaringan jalan tol tersebut sekaligus meningkatkan kelancaran distribusi barang dan mobilitas masyarakat di koridor Pantai Utara Jawa Tengah.

Back to top button