Proyek Tambak Udang Terintegrasi di Sumba Timur Dikebut, Ditargetkan Jadi Model Nasional
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi berskala besar di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Proyek yang berlokasi di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai ini digadang-gadang menjadi model pengembangan budidaya udang terbesar di Indonesia sekaligus penanda pergeseran pusat industri perikanan dari Pulau Jawa ke wilayah timur.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu, mengungkapkan bahwa pembangunan kawasan dengan luas mencapai 2.150 hektare tersebut masih terus berjalan.
Hingga akhir Maret 2026, proses pembentukan petak-petak kolam tambak telah dimulai, sebagai bagian dari tahapan awal konstruksi.
Ia menjelaskan bahwa desain kawasan disusun oleh tim yang berpengalaman, dengan penekanan pada aspek keberlanjutan sebagai fondasi utama pengembangan.
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp7,2 triliun ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang.
Menurut Haeru, pembangunan tambak udang tersebut ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun, dengan sebagian fasilitas diharapkan sudah mulai beroperasi pada tahun berikutnya.
Untuk mencapai target tersebut, KKP tengah mendorong percepatan pelaksanaan melalui koordinasi intensif dengan konsorsium pelaksana proyek.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun dalam kontrak awal durasi pembangunan direncanakan selama tiga tahun, pemerintah berupaya mempercepat penyelesaian menjadi dua tahun sesuai arahan Presiden.
Upaya percepatan ini diharapkan dapat mempercepat manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat setempat.
Terkait rencana operasional awal, KKP sebelumnya menyiapkan 12 klaster tambak, dengan dua klaster direncanakan mulai beroperasi lebih dulu. Namun, jadwal pasti pengoperasian masih bersifat tentatif dan akan disesuaikan dengan perkembangan pembangunan di lapangan.
Secara keseluruhan, kawasan tambak udang ini dirancang dalam delapan komponen utama. Di antaranya meliputi jaringan pipa intake air laut seluas 62 hektare yang mencakup fasilitas pengambilan air, rumah pompa, dan reservoir; tandon penyimpanan serta pengolahan air seluas 46 hektare; serta kawasan budidaya utama seluas 723 hektare yang akan dilengkapi 12 klaster kolam, ratusan tandon, serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Selain itu, proyek ini juga mencakup pembangunan sistem IPAL kawasan seluas 60 hektare, area penghijauan seluas 339,4 hektare, kawasan industri pendukung seluas 60 hektare, serta area penggunaan lainnya yang masih dalam tahap pengembangan.
Melalui pembangunan kawasan ini, pemerintah berharap dapat menciptakan ekosistem budidaya udang yang terintegrasi, modern, dan berkelanjutan.
Selain meningkatkan produksi nasional, proyek ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam industri perikanan global.














