Menelusuri Kembali Jejak Karya Waskita Menuju 500 Tahun Jakarta

Jakarta, sebagai pusat roda ekonomi Indonesia, mengalami banyak perubahan infrastruktur demi menunjang warganya. Jakarta terus berbenah, memantaskan diri demi mencapai tujuan sebagai Kota Global pada 2045 mendatang.
Pada 2027 mendatang, Jakarta akan genap berusia 500 tahun. Sepanjang perjalanan historisnya mulai dari zaman kolonial hingga saat ini, Jakarta telah melalui berbagai perubahan tata kota. Jakarta menyimpan ribuan cerita dari para warganya, menjadi tempat peraduan nasib, tempat digantungnya harapan, hingga menjadi saksi sejarah perkembangan infrastruktur Indonesia. Bukan hanya itu, Jakarta juga menyimpan cerita tentang keberhasilan sebuah kota untuk terus tumbuh dan beradaptasi.
Dalam setiap pertumbuhan infrastruktur Jakarta, Waskita Karya hadir dan ikut ambil bagian dalam perubahan Jakarta. Waskita Karya merupakan salah satu BUMN yang bergerak di bidang jasa konstruksi, infrastruktur, dan investasi. Jejak Waskita dalam pembangunan Jakarta dapat terlihat di mana-mana. Kontribusi Waskita dalam membangun Indonesia, khususnya Jakarta, tercermin melalui berbagai karya infrastruktur yang hadir untuk mendukung konektivitas, mobilitas, serta pertumbuhan kawasan.
Jaringan Transportasi Jakarta
Mengutip Instagram Waskita Karya @waskita _karya, salah satu karya teranyar Waskita di Jakarta adalah pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai. LRT Fase 1B memiliki 5 stasiun yang akan menghubungkan wilayah Kelapa Gading hingga Manggarai.

Pembangunan LRT Fase 1B sepanjang 6,4 kilometer dengan nilai investasi Rp4,1 triliun diharapkan dapat mengakomodasi mobilitas para pekerja yang setiap harinya beraktivitas menuju Jakarta. Dalam pembangunan LRT Fase 1B, Waskita mencatat raihan gemilang 7,5 juta jam kerja selamat tanpa kecelakaan (lost time injury).
Jejak Waskita dalam pembangunan konektivitas transportasi Jakarta juga dapat terlihat dalam pembangunan halte Transjakarta Tosari dan Cikoko. Halte Transjakarta Tosari dibangun dengan bentuk menyerupai kapal phinisi. Karya pembangunan Waskita ini menjadi halte ter-instagramable di Jakarta, terlebih posisinya yang berada di depan Patung Bundaran HI. Halte Cikoko-St. Cawang menjadi halte terintegrasi yang menghubungkan transportasi umum seperti Transjakarta, KRL, dan LRT Jabodebek.
Gedung Ikonik di Jakarta
Selain membangun konektivitas jaringan transportasi Jakarta, Waskita Karya juga berpartisipasi dalam pembangunan gedung-gedung ikonik di ibu kota negara.
Salah satunya adalah gedung tertinggi di Jakarta, Wisma BNI 46. Wisma BNI 46 dibangun dengan desain unik setinggi 262 meter, bangunan Wisma BNI 46 menjadi simbol pusat bisnis Indonesia.

Kemudian ada gedung yang sejak lama mewarnai lanskap Jakarta, yaitu Gedung Bank Indonesia. Waskita berpartisipasi dalam pembangunan beberapa gedung dalam komplek gedung Bank Indonesia, salah satunya Menara Syafruddin Prawiranegara dan Menara Radius Prawiro.
Jejak Waskita juga terdapat pada pembangunan perpustakaan tertinggi di dunia. Perpustakaan Nasional RI dibangun dengan tinggi 126,3 meter dengan total 27 lantai menjadi ikon baru bagi Indonesia
Fasilitas Publik

Waskita juga berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas publik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pembangunan fasilitas kesehatan seperti RSUD Pasar Minggu dan RSUP Fatmawati. RSUD Pasar Minggu dibangun di atas tanah seluas 2,5 hektar, memiliki 12 lantai dan 1 lantai basement, serta memiliki kapasitas 468 tempat tidur pasien.
Waskita menyelesaikan pembangunan ruang rawat isolasi penanganan Covid-19 di RSUP Fatmawati. Dibangun dalam waktu yang singkat selama 30 hari, bangunan ini memiliki 26 kamar dengan kapasitas 43 tempat tidur.
Waskita Karya yang telah berkiprah sejak tahun 1961, meninggalkan banyak jejak pembangunan di lanskap Ibu Kota. Menuju 500 tahun Jakarta, Waskita tidak berhenti mengiringi pembangunan Jakarta, namun terus mengambil peran melalui karya-karya yang menjawab kebutuhan masyarakat.
















