Inovasi Baru! Pemerintah Akan Luncurkan Aspal Merah Putih Pasca HUT RI Ke-81

Top Konstruksi – Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pekerja Umum (PU), baru-baru ini memperkenalkan produk baru inovasi dalam negeri, yaitu aspal merah putih. Produk baru dalam negeri ini terdiri dari campuran aspal alam Pulau Buton (Asbuton) dan aspal minyak cair produksi PT Pertamina (Persero). Menteri PU RI, Dody Hanggodo, berencana meluncurkannya secara resmi usai pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RI, Pada Senin (17/8/2026).
Peluncuran Aspal Merah Putih menjadi bagian dari komitmen Pemerintah untuk memperkuat ketahanan infrastruktur nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Melalui website resmi Pu.go.id, Dody mengatakan dengan adanya aspal merah putih ini dapat mengurangi impor aspal, memperkuat industri dalam negeri, dan pemerataan pertumbuhan ekonomi, serta yang paling penting adalah menghemat devisa negara, yang diharapkan mencapai kurang lebih 4 triliun per tahun.
Guna mempertegas penerapan kebijakan, Kementerian PU telah mengeluarkan Permen PU Nomor 10 Tahun 2026 untuk mengatur pemanfaatan Asbuton olahan dalam pembangunan dan preservasi jalan, mulai dari aspek teknis, pengadaan, pengawasan, evaluasi, pelaporan, hingga pemberian insentif.
Tak hanya itu, Kementerian PU juga menetapkan keputusan Mentri PU Nomor 6950/KPTS/Mn/2026 untuk periode 2026–2029. Keputusan ini memuat target bertahap penggunaan Asbuton olahan, aturan substitusi terhadap aspal konvensional, standar mutu produk, pembinaan kesiapan implementasi, serta mekanisme pengadaan, evaluasi dan pelaporan.
Dalam penerapannya, salah satu produk yang dikembangkan adalah Aspal Merah Putih A30 yang merupakan 100% produk Indonesia yang terdiri dari 30% bitumen Asbuton dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara dan 70% aspal minyak kilang Pertamina. Penerapan Aspal Merah Putih A30 menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan penggunaan Asbuton olahan yang saat ini baru mencapai sekitar 4% menjadi sekitar 30%. Produk ini juga akan dikembangkan secara bertahap menuju Aspal Merah Putih A100 berbasis 100% bitumen Asbuton

Menteri Dody mengingatkan, implementasi Asbuton harus tetap mengedepankan efisiensi. Kebijakan ini tidak boleh sampai menambah beban biaya bagi kontraktor maupun pengguna jalan. Dengan begitu, tarif, dan skema pembiayaan pembangunan tidak akan terdampak. Selain itu, Ia juga menekankan bahwa pengembangan ekosistem jalan tol perlu didukung kepastian hukum dan iklim investasi yang baik.
Data Kementerian PU mencatat, hingga saat ini Indonesia telah mengoperasikan 3.128,30 km jalan tol yang terbagi dalam 76 ruas. Jalan tol tersebut dikelola oleh 54 Badan Usaha Jalan Tol dengan total nilai investasi mencapai Rp779 triliun. Kehadiran jaringan tol ini dinilai strategis dalam memperkuat konektivitas nasional. Akses jalan tol menjadi penghubung utama menuju kawasan industri, pelabuhan, bandara, Kawasan Ekonomi Khusus, destinasi wisata, hingga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi lainnya.Namun, upaya menjaga kualitas infrastruktur tol masih menghadapi tantangan.
Salah satunya adalah maraknya kendaraan Over Dimension Over Load atau ODOL. Menurut Menteri Dody, kendaraan ODOL memperpendek usia pakai perkerasan jalan dari umur rencana, menambah beban biaya pemeliharaan dan rekonstruksi, serta berpotensi mengganggu keselamatan dan kelancaran distribusi logistik nasional.
Untuk menekan dampak ODOL, Pemerintah saat ini telah memasang 47 unit Weigh in Motion (WIM) di sejumlah ruas tol di Indonesia. Perangkat ini berfungsi mendeteksi beban kendaraan secara real time guna mendukung pengawasan dan penegakan aturan di lapangan.
Menteri Dody menegaskan pemerintah, BUJT, pelaku usaha, asosiasi, akademisi dan pemangku kepentingan harus satu visi. Integrasi jalan tol ke depan tidak hanya untuk konektivitas antarwilayah, tapi juga menghubungkan pusat produksi, pasar, investasi, dan lapangan kerja. Hal ini sejalan dengan target PU608 menurunkan ICOR di bawah 6, menekan kemiskinan hingga 0%, dan mendorong pertumbuhan ekonomi 8%.
















