Jawa Barat Perkuat Jaringan Transportasi Terintegrasi Didukung 1.738 Kilometer Jalan Nasional

Jawa Barat dengan julukannya sebagai Bumi Parahyangan terasa tepat dengan keindahan alam yang dimilikinya. Berasal dari bahasa Sunda Kuno, “Parahyangan” berasal dari kata para hyang yang berarti “tempat bersemayamnya para dewa”. Hamparan pegunungan, lembah, hingga sungai membuat penamaan Parahyangan berasal dari cerminan keindahan bentang alam di Jawa Barat. Keragaman geografis tersebut menuntut pembangunan serta preservasi jaringan jalan yang mampu menopang mobilitas warganya
Mengutip data Badan Pusat Statistik, Jawa Barat memiliki ruas jalan nasional sepanjang 1.738 kilometer dan sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia dengan lebih dari 48 juta jiwa. Jawa Barat memegang peran strategis sebagai wilayah penyangga kawasan metropolitan DKI Jakarta sekaligus rumah bagi banyak kawasan industri, aktivitas logistik, perdagangan, hingga beban komuter warganya yang harus dapat difasilitasi oleh infrastruktur Jawa Barat.
Tingginya intensitas mobilitas tersebut membuat pembangunan infrastruktur jalan di Jawa Barat tidak lagi hanya berorientasi pada penambahan konektivitas. Ruas jalan yang sudah ada dan menghubungkan wilayah-wilayah Jawa Barat dengan pusat pertumbuhan ekonomi juga perlu diperhatikan. Preservasi dibutuhkan untuk menjaga kondisi jalan agar tetap mantap dan aman bagi penggunanya.
Sejalan dengan hal tersebut, program preservasi, peningkatan jalan, rehabilitasi jembatan, hingga pembangunan infrastruktur strategis harus segera dilakukan.

Preservasi Jalan Nasional Cipatujuh–Kalapagenep–Pangandaran telah melaksanakan penandatanganan paket pekerjaan pada awal tahun dengan skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Ruas jalan Cipatujuh – Kalapagenep – Pangandaran merupakan jaringan jalan nasional penting yang menghubungkan sentra pariwisata, perikanan, dan ekonomi wilayah pesisir Jawa Barat. Ruas jalan ini merupakan akses utama dari koridor menuju destinasi wisata pantai ternama, sebagai akses menuju roda penggerak aktivitas ekonomi warga pesisir.
Pekerjaan konstruksi lanjutan untuk ruas jalan ini ditargetkan berlangsung secara bertahap pada periode 2025-2027. Saat ini preservasi di ruas Jalan Nasional Cipatujuh – Kalapagenep – Pangandaran masih berlanjut.
Pengembangan jaringan jalan juga dilakukan pada Jalan Tol Bogor – Ciawi – Sukabumi (BOCIMI). Tol Bocimi sudah direncanakan sejak 1997, namun sempat mengalami beberapa kali pergantian investor sehingga ground braking baru benar-benar dilaksanakan pada tahun 2015. Terdiri dari 4 Seksi jalan, Tol Bocimi sudah mengoperasikan Seksi 1 (Ciawi – Cigombong) dengan panjang ruas 15,35 km, resmi beroperasi pada akhir 2018, dan Seksi 2 (Cigombong – Cibadak) dengan panjang 11,9 km telah resmi beroperasi untuk publik pada 2023.

Untuk Seksi 3 (Cibadak – Sukabumi Barat) pembangunan masih terus dikerjakan, saat ini progres pembangunan telah mencapai 80% dan terus dikebut pengerjaannya sehingga dapat selesai sesuai target pada akhir 2026. Sedangkan Seksi 4 (Sukabumi Barat – Sukabumi Timur) masih dalam proses pembebasan jalan.
Jawa Barat juga sedang dalam tahap pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban, yang terletak di wilayah Kab. Subang. Jalan Tol akan dibangun sepanjang 22,94 km, dikerjakan oleh Satuan Kerja Jalan Bebas Hambatan (Satker JBH) Provinsi Jawa Barat pada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta – Jawa Barat.

Pembangunan jalan dibagi menjadi 4 paket, dengan progres pada Paket 1 sepanjang 7,69 kilometer telah mencapai 58,143 persen. Sementara Paket 2 sepanjang 6,2 kilometer mencapai 67,436 persen, Paket 3 sepanjang 5,5 kilometer sebesar 73,436 persen, dan Paket 4 sepanjang 3,55 kilometer telah mencapai 73,658 persen. Secara keseluruhan progres fisik telah mencapai 80%. Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban dibangun untuk memperkuat konektivitas menuju Pelabuhan Patimban.
Pelabuhan Patimban sendiri baru saja melayani impor peti kemas internasional pertamanya. Pelabuhan ini menjadi pelabuhan pertama dengan kompleks industri yang langsung terhubung dengan jalan tol, mewujudkan visi pelabuhan masa depan yang terkoneksi dan siap untuk ekspansi.
Pada Minggu (19/7/2026), Pelabuhan Patimban menerima kedatangan MV MSC CARLA III dalam layanan pelayaran reguler perdana Mediterranean Shipping Company (MSC). Muatan impor berupa komponen kendaraan BYD. Kegiatan bongkar muat mencapai 1.632 TEUs, terdiri atas 1.248 TEUs muatan ekspor dan 384 TEUs muatan impor. Pelabuhan Patimban semakin siap untuk melayani ekspor dan impor.

Penguatan konektivitas di Jawa Barat tidak hanya tercermin melalui pengembangan pelabuhan dan jaringan jalan, tetapi juga diwujudkan melalui peningkatan layanan transportasi umum yang mendukung mobilitas masyarakat sehari-hari.
Kebutuhan masyarakat Jawa Barat akan hadirnya transportasi publik yang terintegrasi membuat kabar groundbreaking pembangunan infrastruktur Bus Rapid Transit ( BRT ) Bandung Raya pada Rabu (22/072026) menjadi angin segar bagi masyarakat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hadi pada seremonial Groundbreaking dan Penandatanganan Kesepakatan Sharing Pendanaan Public Service Obligation (PSO) Angkutan Massal Metropolitan Berbasis Jalan.

Rencananya, BRT akan mengoperasikan sebanyak 579 unit bus dengan 780 titik perhentian bus dan didukung oleh infrastruktur dan skala operasional yang signifikan seperti 21,7 km Koridor Jalur Khusus (Dedicated Lane) untuk menjamin kelancaran bus serta 27 Rute Feeder. BRT akan beroperasi penuh pada tahun 2027 mendatang
Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur di Jawa Barat tidak hanya berfokus pada penambahan konektivitas, tetapi juga pada peningkatan kualitas. Melalui preservasi jalan nasional, pengembangan jalan tol, penguatan konektivitas pelabuhan, dan layanan transportasi umum, Jawa Barat terus memperkuat sistem transportasi yang mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
















