PII Apresiasi Pembatalan Penerbangan Hindari Abu Vulkanik Saat Erupsi Gunung Anak Krakatau

NewsPress Release

JAKARTA, 10 September 2026 — Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyampaikan apresiasi atas penghentian atau pembatalan jadwal penerbangan yang dilakukan oleh otoritas bandara saat terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada 6 September 2026 lalu. Hingga Rabu 9 September 2026 masih terjadi erupsi susulan.  PII juga menyampaikan simpati keprihatinan kepada warga masyarakat yang terdampak.

Ketua Umum PII Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU., ASEAN Eng. menyatakan langkah tepat telah diambil oleh otoritas beberapa bandara,  termasuk Bandar Udara Soekarno Hatta dan Bandara Halil Perdana Kusuma, Jakarta yang sempat menghentikan sementara operasional penerbangannya akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda , 4-6 September 2026.

“Penghentian penerbangan saat terjadi erupsi sudah tepat, untuk menghidari bahaya penerbangan ketika terjadi persebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski demikian saya menyampaikan simpati dan keprihatinan kepada masyarakat yang terdampak akibat erupsi ini,” kata Ketua Umum Umum PII Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU., ASEAN Eng. Kamis(10/9/2026).

Ilham Habibie yang juga ahli teknologi penerbangan ini mengungkapkan Abu vulkanik dapat membahayakan penerbangan karena partikel silika yang keras dan tahan panas dapat masuk ke mesin jet, menyebabkan erosi, gangguan aliran udara, compressor stall, hingga mesin kehilangan tenaga atau mati.

“Abu dari erupsi gunung itu juga dapat menyumbat pitot tube dan mengganggu instrumen penerbangan, mengikis permukaan pesawat, serta menurunkan kinerja aerodinamis,” kata Ilham Habibie.

Selain terhadap pesawat, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu pilot yang berada di kokpit. Abu yang mengendap di landasan pacu dapat mengurangi efektivitas pengereman dan kembali beterbangan saat pesawat beroperasi.

“Oleh karena itu, potensi penyebaran abu vulkanik di sekitar jalur penerbangan meningkatkan risiko keselamatan, dan harus dihindari. Saya sebagai pribadi dan atas nama PII mengapresiasi para otoritas bandara yang melakukan perubahan rute, penundaan, pengalihan, bahkan pembatalan penerbangan sesuai kondisi, demi keselamatan penerbangan,” ujar Ilham Habibie menambahkan.

8 Bandara Batalkan Penerbangan

Setidaknya terdapat 8 bandara yang menghentikan atau membatalkan jadwal penerbangan ketika terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandara Radin Inten II (Lampung), Bandara Husein Sastranegara (Bandung) Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan),Bandara Budiarto Curug (Tangerang), Bandara Taufik Kiemas (Krui, Lampung), dan Bandara Atung Bungsu (Pagar Alam, Sumatera Selatan).

Dari data pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gumpalan abu vulkanik yang bergerak ke arah barat daya menuju Samudera Hindia berasal dari lapisan tinggi atau sekitar 15 kilometer di atas permukaan laut. Sedangkan yang berada pada lapisan menengah atau sekitar enam kilometer, abu vulkanik terbawa angin ke arah timur. Di lapisan yang sama, sisa debu halus dari fase erupsi sebelumnya juga terpantau bergerak ke arah timur menuju perairan Selat Sunda bagian selatan.

Aktivitas GAK Masih Dipantau PVMBG

Prof. Dr. Ir. Agung Harjoko, ST., M.Eng. IPM. dari Badan Keahlian Kebumian PII yang juga Guru Besar Ilmu Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui pos pengamatan di Kalianda, Lampung, dan Pasauran, Serang.

Menurut Agung, status Gunung Anak Krakatau sejak 2 Juli 2026 berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi yang terjadi hingga 5 September 2026 menunjukkan karakter strombolian, antara lain berupa semburan atau lontaran batu pijar dan serpihan magma.

“Pemantauan PVMBG terhadap kubah lava menunjukkan ukuran kubah magma masih kecil dan tidak terdapat indikasi potensi keruntuhan. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai dan dipantau secara berkelanjutan,” ujar Agung.

Menurut Agung, , dibandingkan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dalam 30 tahun terakhir, aktivitas saat ini masih relatif serupa dengan indeks eksplosivitas gunung api (VEI) 1–3. Dengan karakter tersebut, dampak erupsi umumnya bersifat lokal, terutama di sekitar gunung api.

Waspadai Lontaran Material, Abu, dan Potensi Bahaya Ikutan

Agung menyebut bahaya utama erupsi Gunung Anak Krakatau adalah lontaran material pijar dengan radius hingga sekitar 3 kilometer. Selain itu, abu vulkanik dapat membahayakan penerbangan dan kesehatan masyarakat.

Bahaya sekunder yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan runtuhan atau longsoran tubuh gunung api, sebagaimana pernah terjadi pada 2018. Meski pemantauan morfologi saat ini belum menunjukkan potensi longsoran, pengamatan terhadap perubahan bentuk tubuh gunung api tetap perlu dilakukan secara konsisten.

“Gunung api yang berada di tengah laut dapat menimbulkan bahaya yang lebih luas apabila terjadi longsoran tubuh gunung api seperti pada 2018 atau erupsi eksplosif seperti yang terjadi pada 1883. Jika terjadi tsunami vulkanik, wilayah yang berpotensi terdampak terutama pesisir Jawa Barat serta Lampung bagian barat dan selatan,” kata Agung.

Ia menambahkan, pemantauan PVMBG terhadap aktivitas erupsi dan potensi bahaya ikutan telah berjalan dengan baik. Pengamatan perubahan morfologi gunung api dinilai penting untuk mengantisipasi kemungkinan longsoran tubuh gunung api, yang mekanismenya berbeda dari tsunami akibat gempa bumi.

Untuk meminimalkan risiko bencana, Agung mengingatkan masyarakat agar selalu mengonfirmasi informasi yang diterima kepada sumber resmi, khususnya Badan Geologi melalui PVMBG. Masyarakat juga diminta memperhatikan zona bahaya yang direkomendasikan dan mengikuti pembaruan laporan pemantauan harian PVMBG.

“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Karena itu, jangan mendekati zona bahaya, jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan selalu ikuti arahan resmi pemerintah serta PVMBG,” pungkas Agung.

Ilham Habibie menambahkan, sebagai Ketua Umum PII, ia menyerukan agar masyarakat mengikuti petunjuk dari otoritas lembaga pemerintah serta para ahli kegunungapian. “Penting untuk mengikuti petunjuk dari lembaga resmi dan para ahli untuk menjaga keselamatan semuanya,” ujar Ilham Habibie.

Back to top button