Inovasi Semen Mortar Jadi Strategi Indocement Hadapi Tekanan Biaya Energi

News

Di tengah pemulihan permintaan semen nasional yang mulai menunjukkan momentum positif, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) tidak hanya mengandalkan bisnis semen utama sebagai sumber pertumbuhan.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari beberapa sumber, Perseroan diketahui juga mulai memperkuat diversifikasi produk turunan. Salah satunya melalui pengembangan bisnis mortar yang menyasar kebutuhan konstruksi secara lebih spesifik.

Produk tersebut menjadi salah satu upaya perseroan dalam memperluas penetrasinya ke rantai nilai konstruksi, tidak hanya melalui penyediaan semen sebagai bahan dasar, tetapi juga material yang digunakan langsung dalam berbagai tahapan pekerjaan bangunan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Indocement guna menghadapi dinamika industri semen yang masih dibayangi kelebihan kapasitas produksi, persaingan harga, serta meningkatnya biaya energi dan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Tekanan biaya tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri semen. Kenaikan harga batu bara dan solar industri turut meningkatkan biaya produksi, sementara penguatan dolar AS berpotensi menaikkan biaya sejumlah barang dan kebutuhan produksi yang masih bergantung pada impor.

Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo sebelumnya menjelaskan bahwa kenaikan biaya energi, khususnya batu bara dan solar industri menjadi salah satu faktor utama yang menekan industri semen.

Penggunaan batu bara non-DMO disebut memberikan dampak sekitar 18 persen terhadap biaya produksi, sedangkan kenaikan harga solar industri dengan kontribusi sekitar 4 persen.

Di tengah tekanan tersebut, produsen semen memiliki ruang terbatas untuk menaikkan harga jual karena persaingan pasar masih ketat. Kondisi ini tidak terlepas dari kapasitas produksi nasional yang masih jauh lebih besar dibandingkan tingkat permintaan.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), penjualan semen domestik pada semester I/2026 mengalami pertumbuhan sebesar 10,5 persen secara tahunan menjadi 30,71 juta ton.

Namun, industri masih menghadapi persoalan oversupply. Kapasitas produksi semen nasional berada di kisaran 120 juta ton per tahun, sementara tingkat utilisasinya baru sekitar 56 persen.

Kondisi tersebut mendorong Indocement memperluas sumber pertumbuhan melalui pengembangan bisnis turunan. Salah satu langkahnya adalah memperkuat bisnis mortar melalui PT Mortar Prakarsa Utama, perusahaan yang dikembangkan bersama Saint-Gobain Group.

Pengembangan bisnis mortar menjadi relevan di tengah kebutuhan pembangunan infrastruktur dan konstruksi yang semakin beragam terlebih lagi material tersebut memiliki fungsi yang lebih spesifik dalam konstruksi dibandingkan semen konvensional.

Produk mortar dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan konstruksi bangunan karena keunggulannya yang bisa memungkinkan proses pekerjaan menjadi lebih efisien.

Apa efisiensi yang ditawarkan produk ini ?

Sebagai material semen siap pakai, produk ini menyederhanakan proses pencampuran agar tidak perlu lagi mengayak pasir maupun menakar bahan secara manual di lokasi proyek.

Oleh karena itu, Pengembangan produk ini dinilai penting mengingat efisiensi menjadi salah satu fokus utama perseroan untuk menjaga profitabilitas.

Kemudian hal ini juga sekaligus membuka peluang untuk memperluas penetrasi atau masuk lebih jauh ke dalam rantai pasok proyek konstruksi, baik pada pembangunan gedung, kawasan permukiman, fasilitas publik, maupun infrastruktur penunjang aktivitas ekonomi sekaligus mengembangkan portofolio produk bernilai tambah.

Selain memperkuat pengembangan bisnis produk mortar, Indocement juga membentuk PT Mondi Indo Prakarsa Kemasan yakni perusahaan patungan yang didirikan oleh Indocement bersama dengan Mondi Industrial Bags GmbH.

Dimana perusahaan patungan tersebut ditujukan untuk memperkuat keandalan pasokan kantong semen sekaligus menjaga kualitas kemasan produk.

Corporate Secretary Indocement Dani Handajani menjelaskan bahwa penguatan portofolio bisnis dan ekosistem pendukung merupakan bagian dari strategi perseroan dalam menghadapi perubahan industri dengan tetap fokus pada efisiensi, inovasi, serta peningkatan kualitas produk dan layanan kepada pelanggan.

Strategi diversifikasi tersebut berjalan beriringan dengan kinerja penjualan yang mulai membaik. Dimana pada sepanjang semester I/2026, volume penjualan semen dan klinker Indocement tercatat mampu mencapai 9,56 juta ton atau tumbuh sebesar 7,6 persen secara tahunan.

Dalam perolehan tersebut, Penjualan domestik berkontribusi sebesar 9,09 juta ton atau meningkat 5 persen secara tahunan. Sementara itu, penjualan ekspor mencapai 473.000 ton atau melonjak sebesar 99,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan volume tersebut turut menopang kinerja keuangan perseroan. Pendapatan neto Indocement mencapai Rp8,45 triliun atau naik sebesar 5,2 persen secara tahunan.

EBITDA meningkat 12,5 persen menjadi Rp1,52 triliun, sedangkan laba periode berjalan tumbuh sebesar 19,2 persen menjadi Rp589,6 miliar. Kemudian pada periode yang sama, pangsa pasar domestik perseroan mencapai 28,1 persen.

Tren positif berlanjut pada Juli 2026. volume penjualan Indocement mencapai sekitar 1,92 juta ton atau tumbuh sebesar 13,3 persen secara tahunan dan meningkat sebesar 18,6 persen dibandingkan Juni 2026.

Dengan demikian, total volume penjualan selama tujuh bulan pertama tahun 2026 mencapai sekitar 10,32 juta ton atau naik sebesar 6,4 persen secara tahunan.

Namun, pertumbuhan volume belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap profitabilitas. Kenaikan biaya produksi dan distribusi membuat efisiensi tetap menjadi agenda utama perseroan.

Indocement juga terus melihat peluang untuk meningkatkan efisiensi melalui penggunaan bahan bakar dan bahan baku alternatif sekaligus mendorong digitalisasi dan otomasi dalam kegiatan operasional.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga struktur biaya tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas produk dan keselamatan kerja.

Dari sisi permintaan, perseroan melihat prospek pertumbuhan masih terbuka seiring berlanjutnya pembangunan sektor perumahan dan infrastruktur.

Program pembangunan tiga juta rumah per tahun menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong kebutuhan semen dan material konstruksi.

Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk pembelian rumah hingga tahun 2027 juga dinilai dapat memberikan tambahan stimulus bagi pasar.

Di sisi lain, sejumlah risiko masih membayangi industri, mulai dari oversupply, kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, penerapan aturan over dimension over loading (ODOL), penyesuaian tarif listrik, hingga potensi penerapan pajak karbon.

Dengan lanskap industri yang semakin kompetitif, inovasi produk mortar menjadi salah satu instrumen Indocement untuk tidak sekadar mempertahankan posisi di pasar semen, tetapi juga memperluas bisnis ke produk konstruksi bernilai tambah.

Diversifikasi tersebut yang berjalan bersama efisiensi operasional dan penguatan ekosistem bisnis ini menjadi strategi perseroan untuk menjaga pertumbuhan sekaligus mempertahankan profitabilitas di tengah perubahan kebutuhan industri konstruksi.

Back to top button