Update Terbaru! Tol Yogyakarta–Bawen Terus Dikebut, Seksi 3 Ditargetkan Rampung Juni 2028

News

Pembangunan Jalan Tol Yogyakarta – Bawen terus menunjukkan perkembangan di tengah upaya memperkuat konektivitas antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Proyek strategis nasional sepanjang 75,12 kilometer ini tidak hanya dirancang untuk memangkas waktu perjalanan antarkota, tetapi juga membuka akses yang lebih mudah menuju kawasan wisata unggulan, khususnya Candi Borobudur di Kabupaten Magelang.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari beberapa sumber, diinformasikan bahwa Jalan Tol Yogyakarta–Bawen dibagi menjadi enam seksi pengerjaan, mulai dari wilayah Yogyakarta hingga Bawen.

Berdasarkan data evaluasi konstruksi per 25 Agustus 2026 yang dikutip dari beberapa sumber, Setiap seksi memiliki panjang ruas, tahapan pengerjaan, dan capaian progres yang berbeda. Seksi 1 dan Seksi 6 mencatatkan kemajuan progres paling tinggi.

Berikut rincian progres pembangunan dari masing – masing seksi :

  • Seksi 1 (Yogyakarta–SS Banyurejo)

Ruas sepanjang 8,80 kilometer ini telah mencapai progres konstruksi sebesar 97,43 persen dengan pekerjaan saat ini berada pada tahap penyelesaian akhir.

  • Seksi 2 (SS Banyurejo–SS Borobudur)

Ruas sepanjang 15,20 kilometer ini mencatatkan progres sebesar 10,75 persen. Pekerjaan masih berjalan seiring dengan proses pembebasan lahan untuk mendukung kelanjutan pembangunan.

  • Seksi 3 (Borobudur–SS Magelang)

Ruas sepanjang 8,10 kilometer ini mencatatkan progres awal sebesar 0,50 persen berdasarkan evaluasi per 25 Agustus 2026. Pembangunannya dikerjakan oleh konsorsium KSO PP–Waskita–WIKA dengan target penyelesaian seluruh pekerjaan pada Juni 2028.

Kegiatan konstruksi mencakup pekerjaan tanah, pembangunan struktur pendukung, serta pekerjaan pile slab yang memerlukan perhatian khusus terhadap kondisi tanah dan lalu lintas di sekitar jalan nasional Magelang–Yogyakarta.

  • Seksi 4 (SS Magelang–SS Temanggung)

Ruas sepanjang 16,65 kilometer ini masih berada dalam tahap pembebasan lahan. Proses tersebut menjadi bagian penting sebelum pembangunan fisik dapat dilaksanakan.

  • Seksi 5 (SS Temanggung–SS Ambarawa)

Ruas sepanjang 21,39 kilometer ini juga masih menjalani proses pembebasan lahan dan akan melanjutkan tahapan pembangunan fisik setelah proses pengadaan lahan memenuhi kebutuhan proyek.

  • Seksi 6 (SS Ambarawa–JC Bawen)

Ruas sepanjang 4,98 kilometer ini telah mencapai progres konstruksi 100 persen. Tahapan Provisional Hand Over (PHO) atau serah terima sementara telah diselesaikan pada 27 Juli 2026, kemudian dilanjutkan dengan Uji Laik Fungsi (ULF) pada 2–4 September 2026.

PT Jasamarga Jogja Bawen (JJB) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) saat ini melengkapi dokumen hasil ULF sebagai bagian dari persyaratan administratif sebelum ruas tersebut dapat dinyatakan siap beroperasi untuk masyarakat.

Proses pemeriksaan dan pemenuhan dokumen kelayakan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan pengguna jalan serta memastikan kualitas konstruksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Di balik pembangunan yang berlangsung secara bertahap, setiap seksi memiliki tantangan dan tingkat kemajuan yang berbeda, termasuk Seksi 3 yang kini menjadi salah satu fokus percepatan konstruksi.

Berbeda dengan Seksi 6 yang telah menyelesaikan konstruksi, pembangunan Seksi 3 terpantau masih membutuhkan upaya percepatan untuk mengejar target penyelesaian pada Juni 2028 mendatang.

Untuk mencapai target tersebut, percepatan konstruksi proyek yang dikerjakan oleh konsorsium kerja sama operasi (KSO) PP–Waskita–WIKA ini difokuskan pada peningkatan produktivitas dan pengendalian pekerjaan di lapangan.

Corporate Secretary PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Ngatemin menjelaskan bahwa percepatan pembangunan dilakukan melalui pemantauan produktivitas pekerjaan secara harian dan mingguan.

Terutama pada titik-titik pekerjaan yang masuk dalam jalur kritis, yakni bagian proyek yang berpengaruh langsung terhadap pencapaian target penyelesaian.

Meski demikian, Pemantauan/pengawasan tersebut tidak lepas dari beragam pekerjaan teknis yang harus diselesaikan secara terkoordinasi.

Adapun aktivitas konstruksi di lapangan saat ini berpusat pada pekerjaan tanah, mulai dari penggalian hingga penimbunan. Selain itu, kontraktor juga mengerjakan sejumlah struktur pendukung seperti box culvert, box traffic, serta borepile yang menjadi bagian dari pembangunan jembatan.

Berbagai pekerjaan tersebut perlu dilaksanakan secara terkoordinasi agar setiap tahapan dapat berjalan sesuai jadwal. Pengawasan produktivitas dan penanganan pekerjaan kritis diharapkan mampu menekan potensi keterlambatan sekaligus menjaga kualitas konstruksi.

Selain melakukan pengendalian pekerjaan di lapangan, Faktor lingkungan dan kondisi kawasan sekitar juga menjadi perhatian penting dalam langkah percepatan ini mengingat ruas tol tersebut berada di sekitar Candi Borobudur yang memiliki nilai penting sebagai kawasan cagar budaya.

Oleh sebab itu, pelaksanaan konstruksi perlu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Untuk meminimalkan gangguan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, kontraktor menerapkan pengendalian terhadap aktivitas alat berat, kebisingan, getaran, dan debu.

Kemudian pengelolaan limbah konstruksi juga turut menjadi perhatian agar kegiatan pembangunan tidak menimbulkan dampak lingkungan yang berlebihan.

Begitu pun dengan kondisi tanah dan muka air tanah juga menjadi pertimbangan penting dalam pengerjaan struktur pile slab yang memerlukan ketelitian, terutama pada tahap pengeboran dan pengecoran, agar struktur yang dibangun memenuhi persyaratan teknis dan memiliki stabilitas yang memadai.

Tantangan tersebut juga semakin kompleks karena pekerjaan berlangsung di sekitar jalan nasional Magelang–Yogyakarta yang tetap digunakan masyarakat.

Untuk menjaga keselamatan dan kestabilan jalan, tim proyek melakukan pemantauan deformasi tanah secara presisi, pemeriksaan geoteknik, serta pengaturan arus lalu lintas secara berkala. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan aktivitas konstruksi tidak mengganggu keamanan pengguna jalan maupun kelancaran lalu lintas di sekitarnya.

Di tengah tantangan teknis tersebut, proyek Seksi 3 juga menerapkan langkah efisiensi untuk mengoptimalkan penggunaan material dan mengurangi dampak lingkungan. Salah satunya melalui pemanfaatan kembali tanah hasil galian sebagai material timbunan sepanjang memenuhi persyaratan spesifikasi geoteknik.

Penggunaan kembali material tersebut dapat mengurangi kebutuhan pengangkutan tanah dari lokasi lain. Dengan demikian, mobilisasi kendaraan berat dapat ditekan, sekaligus membantu mengurangi emisi karbon di sekitar area pembangunan.

Dari sisi pengendalian mutu, pengawasan konstruksi dilakukan menggunakan sistem digital berbasis Inspection and Test Plan (ITP).

Sistem ini membantu memastikan setiap tahapan pekerjaan diperiksa berdasarkan rencana inspeksi dan pengujian yang telah ditetapkan. Teknologi survei juga digunakan untuk meningkatkan ketepatan pelaksanaan konstruksi serta mengurangi risiko pengerjaan ulang atau rework.

Penerapan teknologi dan efisiensi material tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara percepatan pembangunan, kualitas hasil pekerjaan, dan pengendalian dampak terhadap lingkungan.

Dengan pengawasan yang konsisten, pekerjaan konstruksi ruas jalan tol ini diharapkan dapat diselesaikan sesuai target tanpa mengabaikan standar keselamatan dan mutu mengingat Tol Yogyakarta–Bawen sangat dinantikan oleh masyarakat, terutama para pengguna jalan, pelaku logistik, dan wisatawan.

Pasalnya, pembangunan Tol Yogyakarta–Bawen membawa manfaat yang tidak hanya berkaitan dengan peningkatan akses transportasi setelah jalan tol beroperasi.

Tetapi juga dapat menciptakan peluang ekonomi selama masa konstruksi. Salah satu bentuk manfaat tersebut terlihat dari keterlibatan tenaga kerja dan pemasok material lokal di Kabupaten Magelang pada proyek Seksi 3.

Meksipun begitu, Keterlibatan sumber daya setempat dilakukan dengan tetap memperhatikan persyaratan teknis dan standar keselamatan kerja.

Sehingga pembangunan ruas tol tersebut diharapkan dapat mendorong perputaran ekonomi daerah, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga terbukanya peluang bagi pelaku usaha yang memasok kebutuhan proyek.

Kemudian dalam jangka panjang, keberadaan tol ini diharapkan memperkuat konektivitas kawasan Yogyakarta–Solo–Semarang (Joglosemar), memperlancar mobilitas masyarakat, serta mempermudah perjalanan wisatawan menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.

Akses yang lebih baik berpotensi mendukung perkembangan sektor pariwisata dan kegiatan ekonomi lainnya di wilayah Magelang dan sekitarnya.

Dengan demikian, percepatan pembangunan Seksi 3 menjadi salah satu bagian penting dalam mewujudkan manfaat Jalan Tol Yogyakarta–Bawen secara menyeluruh.

Meski masih menghadapi tantangan teknis, lingkungan, dan lalu lintas, pengawasan pekerjaan yang terarah, penerapan teknologi, serta pengendalian mutu diharapkan dapat membantu proyek mencapai target penyelesaian pada Juni 2028.

Ketika seluruh seksi tersambung dan beroperasi, jalan tol ini diharapkan tidak hanya memperpendek waktu perjalanan, tetapi juga memperluas akses ekonomi dan memperkuat hubungan antardaerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Back to top button