Kota DKI Jakarta pada tahun depan akan genap berusia 500 tahun. Menjelang peringatan 5 abad perjalanan Ibu Kota Negara, Pemprov DKI Jakarta menjadikan momentum ini sebagai titik balik bersejarah. Jakarta terus bertumbuh dan mempersiapkan diri sebagai kota global dan pusat perekonomian dunia sebagaimana visi pembangunan DKI Jakarta.Untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global pada tahun 2045, pembangunan infrastruktur terus dikebut pengerjaannya. Salah satunya adalah proyek LRT Fase 1B yang pembangunannya telah mencapai 95 persen, diproyeksikan beroperasi pada bulan Agustus 2026 mendatang.Proyek LRT Fase 1B menghubungkan Stasiun LRT Velodrome hingga Stasiun LRT Manggarai dengan panjang jalur 6,4 km. Terdapat 5 stasiun pada proyek LRT Fase 1B yaitu Stasiun Rawamangun, Stasiun Pramuka BPKP, Stasiun Pasar Pramuka, Stasiun Matraman dan Stasiun Manggarai.PT Waskita Karya (Persero) Tbk memimpin pelaksanaan pembangunan lintasan LRT Jakarta Fase 1B melalui Konsorsium Waskita Nindya LRS. Penugasan tersebut diberikan oleh PT Jakarta Propertindo (Perseroda) selaku pemilik proyek. Dalam pelaksanaannya, Waskita berkolaborasi dengan PT Nindya Karya dan PT LEN Railway Systems. Dok. Instagram @lrt1b.project Pembangunan konstruksi LRT Jakarta Fase 1B memiliki kebutuhan material dalam jumlah yang besar. Pekerjaan utama dan material inti yang diperlukan di antaranya adalah jumlah titik Bore Pile mencapai 995 titik dan diameter Bore Pile terbesar dengan ukuran 1,8 meter, dengan total panjang Bore Pile 50.649 meter. Kebutuhan PCI Girder sebanyak 869 batang , dengan PCI Girder terpanjang bentang 17 meter. Serta SBG (steel box girder) sejumlah 17 bentang, dengan SBG terpanjang bentang 115 meter, yang akan ditempatkan di atas track kereta KA Manggarai.Material yang berbobot besar membutuhkan berbagai alat berat untuk mengakomodasinya, ditambah area kerja yang sempit, lalu lintas kendaraan yang padat, serta jalur lintasan yang rumit seperti jalur yang akan melintasi Jalan Tol Wiyoto Wiyono dan area double-double track di Stasiun Manggarai, merupakan tantangan yang dihadapi saat pembangunan LRT Fase 1B.Jalur perlintasan yang melewati Tol Wiyoto Wiyono KM 1+700 hingga KM 2+100 telah rampung pada bulan Mei lalu. Untuk menjaga agar lalu lintas di jalan tol tidak terganggu selama masa konstruksi, Waskita menggunakan metode balanced cantilever dengan bentang atau span sepanjang 120 meter. Dok. Tangkapan Layar Youtube Waskita Karya Tantangan pemasangan Steel Box Gilder di Stasiun Manggarai telah juga dirampungkan. Mengutip Instagram Waskita Karya, pada 14 Juli lalu, pemasangan Steel Box Gilder terakhir telah terpasang 100 persen. Pemasangan girder double-double track Manggarai dengan window time kurang dari tiga jam dikerjakan tanpa mengganggu operasional KRL maupun kereta antarkota. Hal tersebut menunjukkan komitmen tinggi Waskita dalam penerapan sistem Quality, Health, And Safety, And Environment (QHSE). Dok. Tangkapan Layar Youtube Waskita Karya Kapabilitas Waskita sebagai perusahaan konstruksi juga terlihat pada konsistensi implementasi standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diterapkan pada pembangunan LRT Fase 1B. Berkat konsistensi penerapan K3, Waskita berhasil mencatatkan pencapaian 7,5 juta jam kerja selamat tanpa kecelakaan (lost-time injury) pada pembangunan LRT Fase 1B. Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko menyatakan, “7,5 juta jam kerja selamat ini menjadi fondasi penting dalam pelaksanaan proyek yang berada di tengah padatnya lalu lintas Jakarta serta ruang kerja terbatas. Seperti diketahui, tantangan utama (urban constraint) dalam pengerjaan LRT Jakarta, di antaranya lalu lintas Jakarta yang selalu padat”. Lalu lintas yang padat di area konstruksi membuat Waskita mengoptimalkan pekerjaan konstruksi pada malam hari guna meminimalkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut menuntut tingkat fokus yang tinggi serta inovasi dalam penerapan sistem keselamatan (safety) dan metode kerja. Bagi Waskita, keterbatasan tersebut dipandang sebagai tantangan yang harus dikelola dengan baik, bukan dihindari.Waskita optimis bahwa hadirnya LRT Fase 1B ini bukan hanya menambah pilihan transportasi umum, namun juga dapat mendorong peralihan kendaraan pribadi ke transportasi publik. Pembangunan LRT Fase 1B dengan tingkat visibilitas publik yang tinggi menambah jejak karya Wakita dalam pembangunan nasional sebagai BUMN yang berdaya saing tinggi.