Jejak Karya Konstruksi
Didukung 1.888 Kilometer Jalan Nasional, Jawa Tengah dan DIY Perluas
Konektivitas Antardaerah hingga Kawasan Pesisir

Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan dua wilayah yang secara geografi dan ekonomi saling berkaitan erat. Berbagi budaya, bahasa daerah, dan gaya hidup yang hampir sama hanya terpisahkan oleh garis administrasi. Budaya masyarakat Jawa Tengah dan DI Yogyakarta inilah yang menjadi salah satu daya tarik sektor pariwisata.
Mengutip data Badan Pusat Statistik, Jawa Tengah memiliki 1.581 km jalan nasional dan DI Yogyakarta memiliki jalan nasional sepanjang 307 km. Walaupun Jawa Timur dan DI Yogyakarta telah memiliki 1.888 km jalan nasional, dua wilayah yang saling berdekatan ini tetap membutuhkan jalan tambahan untuk menunjang aktivitas pariwisata yang terus meningkat dan berkembang setiap tahun turut meningkatkan mobilitas masyarakat.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen dan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo hadir sebagai Proyek Strategis Nasional yang akan mendukung mobilitas masyarakat dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo akan membentang sepanjang 96,57 km bernilai Rp27,49 triliun. Dibangun dengan skema KPBU Unsolicited antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Badan Pengatur Jalan Tol sebagai PJPK dan PT. Jogjasolo Marga Makmur sebagai pengelola.
Pada tahap awal, pembangunan difokuskan pada Seksi 1 Solo–Purwomartani dengan panjang total 42,38 kilometer, yang terbagi menjadi Paket 1.1 Kartasura–Klaten dan Paket 1.2 Klaten–Purwomartani. Seksi 1.1 Kartasura–Klaten sepanjang 22,3 kilometer telah resmi beroperasi sejak 2024.

Seksi 1 Peket 1.2 Klaten–Purwomartani merupakan lanjutan dari Seksi 1.1 Kartasura–Klaten sekaligus memperkuat konektivitas antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagian ruas hingga Exit Tol Prambanan telah dibuka untuk melayani lalu lintas, sementara sisa ruas menuju Purwomartani masih dalam tahap penyelesaian. Exit Tol Prambanan yang sering menjadi titik kemacetan saat musim liburan tiba, dengan adanya tol ini, waktu tempuh dari arah Solo menuju kawasan wisata Candi Prambanan hanya membutuhkan 15-20 menit saja.
Seksi 2 Paket 2.2 Trihanggo–Junction Sleman, pembangunan sudah mencapai angka 87% dengan prioritas pekerjaan saat ini diarahkan pada penyelesaian jalur utama serta akses keluar dan masuk jalan tol (Ramp On dan Ramp Off) dan ditargetkan rampung pada Agustus 2026.
Pengembangan Jalan Tol Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo menjadi bagian dari upaya membangun sistem transportasi yang saling terhubung di Jawa Tengah dan DIY. Untuk melengkapi konektivitas tersebut, pemerintah juga melanjutkan pembangunan Jalan Tol Yogyakarta–Bawen. Jalan tol ini diharapkan dapat mengurangi lalu lintas yang padat di jalan arteri, mendukung kawasan industri di koridor Ungaran–Bawen, serta mendukung pengembangan kawasan pariwisata Joglosemar.
Tol Yogyakarta-Bawen akan memiliki total ruas jalan sepanjang 75,12 km. Pembangunan akan dibagi menjadi 6 seksi. Seksi 1 Yogyakarta-Banyurejo (8,25 km) dan Seksi 6 Ambarawa-
Bawen (5,12 km) menjadi prioritas utama pembangunan. Progres Konstruksi Seksi 1 sebesar 89,13% dan Seksi 6 sebesar 90,16%. Tol Yogyakarta-Bawen diproyeksikan rampung pada 2028, jika semua ruas telah beroperasi, perjalanan Jogja-Semarang diperkirakan terpangkas dari 3 jam menjadi kurang dari 1 jam.

Selain memperkuat konektivitas Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Tol Yogyakarta-Bawen akan mempermudah akses distribusi logistik antara DI Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian utara, termasuk menuju Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang.
Di wilayah Jawa Tengah sendiri, pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak yang terintegrasi dengan Tanggul Laut Kota Semarang juga sedang dalam proses konstruksi. Jalan Tol Semarang-Demak akan berbagi fungsi sebagai sistem polder, yaitu metode pengendalian banjir rob dengan pembangunan tanggul laut yang dilengkapi dengan kolam retensi, pompa, pintu air dan sistem drainase regional yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen pengelolaan air.

Pembangunan ruas tol ini terbagi menjadi 3 paket pekerjaan dengan nilai kontrak sebesar Rp10,9 triliu, yakni Paket 1A dengan penyedia jasa Hutama Karya (HK) dan Beijing Urban Construction Group (BUCG). Paket 1B dikerjakan oleh Pembangunan Perumahan (PP), Wijaya Karya (WIKA), dan China Road and Bridge Corporation (CRBC), serta Paket 1C oleh Adhi Karya – Sinohydro.

Saat ini pekerjaan tanggul laut Tol Semarang–Demak Seksi 1 Kaligawe-Sayung sudah menyambung seluruhnya dan progres fisik secara keseluruhan mencapai 80% . Pembangunan jalan tol ini diestimasi akan mengeringkan lahan seluas 576,04 hektar. Pekerjaan fisik jalan tol, juga dibangun dengan konstruksi khusus tanggul laut (giant sea wall) sepanjang 6,73 km. Selain itu, ada Kolam Retensi Terboyo dan Sriwulan yang digunakan untuk menampung air dalam jangka waktu tertentu, sebelum dialirkan ke laut atau daerah resapan lain.
Di DI Yogyakarta ada pembangunan Jalan Baru Kretek-Girijati yang merupakan infrastruktur strategis yang bertujuan meningkatkan konektivitas antara Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul.

Jalan Kretek – Girijati atau yang sering disebut sebagai Kelok 23 nantinya akan membentang sepanjang 5,6 km. Bagian 3,5 km jalan berada di Kabupaten Bantul dan bagian 2,1 km berada di Kabupaten Gunung Kidul. Di area Bantul, jalur ini akan tersambung dengan jalan Parangtritis menerus dengan Jembatan Kretek II, sedangkan di area Gunung Kidul menyambung dengan jalur Girijati – Tlogowarak dan Legundi – Planjan.
Waskita Karya sebagai kontraktor pelaksana menyatakan Jalan Nasional Kretek – Girijati telah rampung 94,98% dengan total panjang jalan 4,92 km. Kontur alam di ruas Pansela Kretek – Girijati yang didominasi oleh bukit menjadi suatu tantangan baik dalam proses desain maupun pelaksanaan.
Dikutip Rabu (22/07/2026), Ridwan Subarkah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) , mengatakan digunakan tiga metode dalam pembangunan. Metode pertama, pada bagian lereng dibuat lebih landai untuk mengurangi potensi longsoran atau guguran material dari atas. Penanaman rumput juga dilakukan sehingga aliran pada lereng dapat terkendali.
Metode kedua, jika kondisi lereng tidak bisa dibuat, maka dilakukan perkuatan menggunakan geomat dan jaring kawat yang dibentangkan di lereng, kemudian ditanami tanaman seperti kacang-kacangan atau tanaman lokal dengan sistem hydroseeding sehingga mencegah erosi. Metode ketiga, Barkah menjelaskan pihaknya sedang mengusulkan penggunaan shotcrete/beton yang disemprot ke lereng sehingga membantu kestabilan lereng. Metode keempat menggunakan dinding penahan tanah.
Pembangunan infrastruktur bukan sekadar menghadirkan jalan baru, melainkan menciptakan keterhubungan yang memudahkan aktivitas masyarakat. Kehadiran Tol Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo, Yogyakarta–Bawen, Tol Semarang–Demak, hingga Jalan Nasional Jalan Kretek – Girijati diharapkan dapat memperlancar mobilitas, memperkuat distribusi barang dan jasa, serta mendorong tumbuhnya peluang ekonomi dari wilayah darat hingga mencapai wilayah pesisir di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.















