Sektor Konstruksi Tumbuh 6,42% pada Kuartal III/2026, Ditopang Proyek Infrastruktur dan Program Pemerintah
BPS mencatat konstruksi menyumbang 10,20% terhadap PDB nasional, didukung belanja modal, pembiayaan pembangunan, serta proyek infrastruktur dan program prioritas pemerintah.

Aktivitas pembangunan infrastruktur dan pelaksanaan sejumlah program prioritas pemerintah terus menjadi salah satu penggerak perekonomian Indonesia.
Di tengah meningkatnya belanja modal dan pembiayaan konstruksi, sektor ini kembali mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal III/2026, meskipun lajunya sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa lapangan usaha konstruksi tumbuh sebesar 6,42% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada periode Juli – September 2026.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,68% pada kuartal II/2026, tetapi masih melampaui capaian kuartal I/2026 sebesar 5,49%.
Kinerja tersebut menempatkan konstruksi sebagai salah satu sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dari total pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% pada kuartal III/2026, sektor konstruksi menyumbang 0,62 poin persentase.


Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, dalam konferensi pers pada Kamis (5/11/2026), menjelaskan bahwa konstruksi menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi terbesar setelah industri pengolahan dan perdagangan.
Berdasarkan data BPS, sejumlah sektor dengan andil terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III/2026 meliputi:
- Industri pengolahan: 1,20 poin persentase.
- Perdagangan: 0,94 poin persentase.
- Konstruksi: 0,62 poin persentase.
- Informasi dan komunikasi: 0,49 poin persentase.
Selain memberikan andil terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor konstruksi juga memiliki peran penting dalam struktur perekonomian nasional. Kontribusinya mencapai 10,20% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III/2026.
Pertumbuhan sektor konstruksi di sepanjang kuartal III/2026 tidak terlepas dari berlanjutnya pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan pemerintah maupun pihak swasta.
Menurut Edy, salah satu faktor pendukungnya adalah peningkatan belanja modal pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya untuk kegiatan konstruksi.
Selain dukungan anggaran pemerintah, BPS mencatat peningkatan pembiayaan konstruksi yang disalurkan oleh bank umum serta Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Perkembangan tersebut turut mendukung aktivitas pembangunan selama periode laporan.
Dorongan lainnya berasal dari pelaksanaan sejumlah program prioritas pemerintah yang melibatkan kegiatan pembangunan fisik.
Program-program tersebut mencakup pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), pembangunan perumahan rakyat, program Sekolah Garuda, serta revitalisasi sekolah.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari faktor yang menopang pertumbuhan konstruksi, bersamaan dengan berlanjutnya proyek infrastruktur dan pembangunan oleh sektor swasta.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga mengonfirmasi bahwa pelaksanaan proyek prioritas pemerintah, termasuk pengembangan Koperasi Desa Merah Putih dan pembangunan fasilitas pendidikan, turut mendorong pertumbuhan sektor konstruksi pada kuartal III/2026.
Sejalan dengan pertumbuhan konstruksi, lapangan usaha real estat turut menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026.
BPS mencatat sektor real estat tumbuh sebesar 4,10% secara tahunan pada kuartal III/2026. Capaian tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 3,64% pada kuartal II/2026 dan 3,54% pada kuartal I/2026.
Berbeda dengan sektor konstruksi yang mengalami sedikit perlambatan pada kuartal ketiga, pertumbuhan real estat justru terus menguat sejak awal tahun.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi pada lapangan usaha real estat masih berada dalam tren pertumbuhan positif. Pada kuartal III/2026, kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional tercatat sebesar 2,15%.
Perkembangan kedua sektor tersebut menjadi bagian dari penguatan perekonomian Indonesia yang tumbuh 5,47% secara tahunan pada kuartal III/2026, meningkat dari 5,29% pada kuartal sebelumnya.
Dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur, pembiayaan konstruksi, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah, perkembangan aktivitas pembangunan pada periode berikutnya akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kontribusi sektor konstruksi terhadap perekonomian nasional.
















