Pembangunan Rel Layang Semarang Tawang – Poncol Atasi Banjir Rob dan Kemacetan Jalur Pantura

HeadlineNews

Kebutuhan akan pembangunan jalur kereta api layang atau elevated railway di Kota Semarang kian mendesak seiring berlarutnya persoalan banjir rob dan kemacetan kronis di perlintasan sebidang yang selama ini melumpuhkan kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Infrastruktur ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga kelancaran transportasi kereta api nasional, khususnya pada koridor vital Jakarta – Surabaya.

Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata Semarang sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengungkapkan bahwa rel layang di Semarang dirancang membentang sepanjang 7,4 kilometer.

Jalur tersebut dilengkapi dua stasiun layang utama, yakni Stasiun Semarang Tawang (SMT) dan Stasiun Semarang Poncol (SMC), yang menjadi simpul penting pergerakan penumpang di kota tersebut.

Dok. Kemenhub DIrektorat Jenderal Perkeretaapian

Menurut Djoko, pembangunan rel layang merupakan respons atas penurunan muka tanah (land subsidence) yang terus terjadi di wilayah pesisir Semarang. Kondisi tersebut selama ini menjadi faktor utama tingginya risiko genangan air laut yang kerap mengganggu operasional kereta api, terutama di kawasan rawan seperti Kaligawe.

Sementara itu, jalur rel eksisting di permukaan tanah (at grade) tetap dipertahankan untuk mendukung operasional kereta barang. Jalur tersebut berfungsi melayani angkutan logistik menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Container Yard Ronggowarsito, serta menghubungkan arus barang pada lintasan utama Jakarta–Surabaya.

Djoko menilai, keberadaan rel layang dapat menjadi solusi aktif dalam mitigasi banjir rob yang selama ini menyebabkan lumpuhnya jalur kereta nasional di wilayah Pantura. Dengan posisi rel yang berada jauh di atas permukaan air, perjalanan kereta api dinilai akan tetap aman dan lancar tanpa harus melakukan pengalihan rute ke jalur selatan.

Djoko menekankan bahwa gangguan berulang pada jalur kereta api di Semarang selama ini berdampak langsung terhadap stabilitas rantai pasok nasional. Sebagai salah satu urat nadi logistik Pulau Jawa, terhambatnya jalur ini berpotensi menimbulkan efek domino terhadap distribusi barang dan aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, rel layang diproyeksikan menjadi solusi permanen yang memisahkan infrastruktur perkeretaapian dari ancaman genangan air laut dan penurunan tanah di masa mendatang.

Kehadirannya diharapkan tidak hanya meningkatkan keandalan transportasi kereta api, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem logistik nasional di koridor Pantura Jawa.

Back to top button