Proyek Tambak Udang Terintegrasi Waingapu Ditargetkan Rampung 2027, Mampu Produksi 52.800 Ton per Tahun

News

Pemerintah terus mendorong pengembangan sektor perikanan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satunya melalui Proyek Tambak Udang Terintegrasi (Integrated Shrimp Farming/ISF) di Waingapu yang dibangun sebagai salah satu penggerak ekonomi baru di wilayah tersebut.

Pemilihan Waingapu sebagai lokasi pembangunan bukan tanpa alasan. Lokasi tersebut terpilih sebagai bagian dari upaya Pemerintah untuk mendorong pemerataan pembangunan ekonomi di NTT, terutama di tengah tantangan kemiskinan yang masih dihadapi sejumlah wilayah.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari dalam konferensi pers pada Rabu (2/9/2026) menjelaskan bahwa pengembangan ISF Waingapu merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, khususnya melalui peningkatan produksi sumber protein dari sektor perikanan.

Pembangunan tambak raksasa tersebut saat ini dilaporkan masih dalam proses pembangunan dengan target rampung pada tahun 2027 dan mulai beroperasi pada tahun 2028 mendatang.

Setelah beroperasi penuh, ISF Waingapu diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 52.800 ton udang per tahun yang diharapkan dapat sekaligus menambah pasokan udang nasional serta memperkuat pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari beberapa sumber, Proyek tersebut dibangun di atas lahan seluas 2.150 hektare (ha) dengan nilai investasi mencapai US$500 juta atau sekitar Rp7,2 triliun,

Dari total lahan tersebut, sekitar 1.361 ha akan dimanfaatkan untuk area tambak beserta fasilitas pendukung.

Adapun lingkup pekerjaan dalam proyek ini mencakup pembangunan kolam budi daya, tandon, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) klaster, jaringan intake, fasilitas karantina, jalan produksi, hingga IPAL utama.

Dalam pembangunannya, pengerjaan proyek ini melibatkan tenaga kerja lokal. Hal ini menjadi bukti bahwa dampak ekonomi ISF Waingapu tidak hanya mendorong peningkatan produksi udang, tetapi juga berpotensi menciptakan efek berganda melalui penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya berbagai sektor usaha pendukung di sepanjang rantai industri.

Dari sisi ketenagakerjaan, ISF Waingapu diproyeksikan menyerap sekitar 7.000 tenaga kerja yang tersebar mulai dari sektor hulu, kegiatan budi daya (on farm), hingga industri hilir. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 tenaga kerja akan mendapatkan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri udang terintegrasi.

Selain itu, dampak ekonomi lainnya juga diharapkan tumbuh melalui berbagai usaha pendukung seperti fasilitas pembenihan (hatchery), pabrik pakan, cold storage, pabrik es, industri pengolahan udang, hingga sektor transportasi.

Keberadaan rantai usaha tersebut diharapkan menciptakan pusat-pusat kegiatan ekonomi baru sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat sekitar.

Pemerintah menegaskan pengembangan ISF Waingapu akan terus diarahkan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir dan pedesaan.

Selain meningkatkan kapasitas produksi perikanan nasional, proyek tersebut diharapkan memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat NTT.

Dengan skala produksi dan investasi yang besar, ISF Waingapu diproyeksikan menjadi salah satu proyek strategis dalam pengembangan industri udang terintegrasi di Indonesia.

Jika semua berjalan sesuai target yang diharapkan, fasilitas tersebut akan mulai beroperasi pada tahun 2028 dan menjadi penggerak baru ekonomi perikanan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar udang domestik maupun global.

Back to top button