Teknologi Ramah Lingkungan, Asbuton Murni Resmi Mulai Diuji di Tol Pemalang – Batang

HeadlineNewsTechno & Science
Dok. Kementerian PU DIrektorat Bina Marga

Pemerintah terus memperkuat penggunaan material lokal dalam pembangunan infrastruktur nasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian industri sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Salah satu langkah yang kini mulai diimplementasikan adalah pemanfaatan Asbuton Murni atau aspal Buton pada proyek jalan tol.

Melalui kolaborasi antara Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dengan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan (MOLIT), Asbuton Murni resmi diuji coba di Ruas Tol Pemalang – Batang, Jawa Tengah sebagaimana informasi yang dikutip dari laman resmi instagram Kementerian PU Bina Marga

Uji coba tersebut dilakukan menggunakan teknologi Warm Mix Asphalt (WMA) yakni metode pencampuran aspal dengan suhu lebih rendah dibandingkan metode konvensional. Teknologi ini dinilai mampu menekan konsumsi energi selama proses produksi sekaligus mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dalam pekerjaan konstruksi jalan.

Pengujian dilakukan pada jalur sepanjang sekitar 1,5 kilometer di Ruas Tol Pemalang–Batang. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki volume lalu lintas yang cukup tinggi sehingga dinilai ideal untuk mengukur performa dan ketahanan campuran aspal ramah lingkungan dalam kondisi operasional nyata.

Direktorat Jenderal Bina Marga menjelaskan bahwa penerapan teknologi WMA tidak hanya berfokus pada efisiensi energi, tetapi juga mendukung kualitas konstruksi jalan yang lebih baik dan berkelanjutan. Dengan suhu pencampuran yang lebih rendah, proses produksi dinilai lebih ramah lingkungan serta mampu mengurangi dampak emisi terhadap lingkungan sekitar.

Teknologi Warm Mix Asphalt yang digunakan dalam proyek percontohan ini dikembangkan melalui kerja sama dengan Korea Institute of Civil Engineering and Building Technology (KICT).

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari program kerja sama internasional Official Development Assistance (ODA) antara Indonesia dan Korea Selatan.

Selain menjadi proyek uji coba penerapan teknologi baru, kerja sama ini juga diarahkan sebagai sarana transfer teknologi untuk mendukung pengembangan infrastruktur masa depan yang lebih efisien dan rendah emisi.

Pemerintah menilai inovasi tersebut penting untuk mempercepat transformasi pembangunan jalan nasional menuju konsep konstruksi hijau (green infrastructure).

Apalagi Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan Asbuton karena cadangannya disebut sebagai yang terbesar di dunia. Material aspal alam yang berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara itu diperkirakan memiliki cadangan mencapai sekitar 663 juta ton.

Potensi tersebut dinilai menjadi modal strategis dalam memperkuat ketahanan material konstruksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor aspal.

Bukan hanya karena memiliki potensi kekayaan alam yang mendukung, langkah pemanfaatan Asbuton ini juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) dalam proyek infrastruktur.

Selain mendorong kemandirian material konstruksi, penggunaan Asbuton diharapkan mampu menciptakan inovasi jalan berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

Pemerintah menargetkan pemanfaatan Asbuton dapat diperluas secara bertahap pada periode 2026–2029 hingga mencapai 100 persen penggunaan di berbagai proyek jalan nasional.

Dengan dukungan teknologi modern dan kolaborasi internasional, Asbuton diharapkan mampu menjadi salah satu tulang punggung pembangunan infrastruktur hijau Indonesia di masa mendatang.

Back to top button