Kementerian PU Siapkan Proyek Bendungan Terbesar di Sulawesi Tenggara

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagai bagian dari target pengembangan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) periode 2025 – 2029.
Proyek tersebut diproyeksikan menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede, sekaligus menjadi bendungan dengan kapasitas terbesar di Sulawesi Tenggara. Kehadirannya dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan dan air, mengurangi risiko banjir, serta membuka peluang pengembangan energi bagi masyarakat.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan bendungan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Langkah tersebut diperlukan agar air yang ditampung dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk mendukung produktivitas sektor pertanian.
Menurut Dody, keberlanjutan pasokan air menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan petani.
Saat ini, pembangunan Bendungan Pelosika berada dalam tahap pemrograman dan telah disiapkan untuk memasuki proses lelang. Pekerjaan fisiknya direncanakan berlangsung pada periode 2026-2030.
Bendungan Pelosika akan memiliki kapasitas tampung total mencapai 1,117 miliar meter kubik, dengan tampungan efektif sekitar 808 juta meter kubik. Luas genangan diperkirakan mencapai 5.451,56 hektare, sedangkan daerah tangkapan airnya memiliki luas sekitar 2.780,93 kilometer persegi.
Dari sisi pertanian, bendungan tersebut dirancang untuk mendukung layanan irigasi seluas 20.458 hektare. Area tersebut terdiri atas 12.678 hektare daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial.
Ketersediaan air irigasi dari Bendungan Pelosika diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman dari 220 persen menjadi 300 persen. Dengan peningkatan tersebut, lahan pertanian yang sebelumnya dapat ditanami dua kali dalam setahun berpotensi ditingkatkan menjadi tiga kali masa tanam.
Manfaat bendungan juga mencakup penyediaan air baku bagi masyarakat Kabupaten Konawe. Bendungan ini dirancang menyediakan air baku sebesar 750 liter per detik yang selanjutnya dapat diolah melalui instalasi pengolahan air (IPA) dan didistribusikan melalui jaringan perpipaan.
Kapasitas tersebut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar 540.000 jiwa. Dengan demikian, fungsi Bendungan Pelosika tidak hanya mendukung sektor pertanian, tetapi juga memperkuat ketersediaan air bagi kebutuhan masyarakat.
Dari aspek pengendalian banjir, Bendungan Pelosika dirancang untuk mengurangi wilayah terdampak risiko banjir dari sekitar 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare. Manfaat tersebut mencakup 10 kecamatan di Kabupaten Konawe, yakni Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku, dan Pondidaha.
Selain ketahanan pangan, air, dan pengendalian banjir, proyek ini juga memiliki potensi dalam mendukung ketahanan energi. Bendungan Pelosika dirancang untuk mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 40 megawatt serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 261,12 megawatt.
Dari sisi investasi, pembangunan Bendungan Pelosika membutuhkan anggaran sekitar Rp9,8 triliun. Secara teknis, bendungan tersebut menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi mencapai 63 meter.
Bendungan ini memiliki elevasi puncak 121 meter, panjang puncak total 404,26 meter, dan lebar puncak 15 meter. Untuk mendukung aspek keamanan konstruksi, desain bendungan dilengkapi pelimpah utama tipe ogee serta pelimpah darurat tipe broad-crest.
Dengan beragam fungsi yang dimilikinya tersebut, pembangunan Bendungan Pelosika menjadi salah satu proyek strategis dalam penguatan infrastruktur SDA di Sulawesi Tenggara.
Selain meningkatkan ketersediaan air untuk pertanian dan kebutuhan masyarakat, bendungan ini diarahkan untuk mengendalikan banjir serta membuka pemanfaatan sumber energi secara berkelanjutan.












