Skybridge Supertall Indonesia 1 Seberat Puluhan Ton Segera Diangkat Menembus Ketinggian 117,6 Meter

Pembangunan gedung pencakar langit di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, dikabarkan telah memasuki salah satu tahapan paling penting yang cukup menantang.
Menjelang akhir Oktober 2026, dua menara supertall Indonesia 1 milik PT Surya Indonesia Satu Property dengan ketinggian mencapai 306 meter akan mencatatkan sebuah pencapaian baru dalam teknologi konstruksi gedung bertingkat di Indonesia.

Pencapaian tersebut akan diwujudkan melalui proses pengangkatan struktur skybridge menuju ketinggian lebih dari 100 meter.
Struktur ini menjadi bagian penting mengingat desain menara indonesia 1 dirancang untuk saling terhubung melalui dua jembatan penghubung atau skybridge yang menggunakan konstruksi baja.
Secara keseluruhan, Indonesia 1 memiliki dua skybridge yang masing-masing terdiri atas dua lantai. Skybridge pertama berada di antara Lantai 3 hingga Lantai 5 yang pengerjaannya telah rampung menggunakan metode konvensional, dimana seluruh struktur dirakit di atas perancah atau scaffolding yang ditopang langsung dari lantai dasar.
Sementara itu, skybridge kedua berada di posisi yang jauh lebih tinggi yakni di antara Lantai 21 hingga Lantai 23, dengan posisi atap mencapai elevasi +117,6 meter dari lantai dasar.
Perbedaan ketinggian tersebut membuat penggunaan perancah/scaffolding konvensional yang ditopang dari permukaan tanah tidak lagi memungkinkan, baik dari sisi teknis maupun keekonomian.
Sehingga mendorong penerapan metode konstruksi yang berbeda untuk menyelesaikan pemasangan skybridge atas. Salah satu tahapan paling krusial yang kini dipersiapkan adalah pengangkatan struktur upper skybridge seberat puluhan ton menuju elevasi +117,6 meter.
Untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, kontraktor menggunakan metode high-altitude truss hoisting yang disebut menjadi penerapan perdana dalam sejarah rekayasa struktur gedung bertingkat di Indonesia.
Metode pengangkatan yang dirancang tim insinyur ini dilakukan dengan sistem terkoordinasi dan tingkat presisi tinggi.
Setelah dua bagian bentang cantilever tersambung sementara, struktur tersebut akan memasuki tahap pengangkatan. Rangka baja berukuran besar itu nantinya ditarik menggunakan tali baja khusus yang dioperasikan secara serempak melalui 12 unit hydraulic heavy strand jack.
Pakar rekayasa struktur Davy Sukamta menjelaskan bahwa proses tersebut menuntut tingkat kecermatan yang sangat tinggi. Sistem pengendalian jarak jauh harus mampu mengatur proses pengangkatan secara presisi agar distribusi beban tetap merata pada kedua menara utama.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari beberapa sumber, proses perakitan rangka baja saat ini terpantau masih berlangsung di atas atap skybridge bawah. Tahap pengangkatan utama atau yang disebut sebagai “aksi spektakuler” tersebut dijadwalkan berlangsung sekitar akhir Oktober 2026 dan dapat terlihat dari sepanjang Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Di balik kompleksitas proses tersebut, terdapat aspek lain yang menjadi sorotan, yakni keterlibatan tenaga ahli nasional dalam perancangan struktur. Seluruh proses analisis, desain struktur, hingga kalkulasi pembebanan skybridge disebut sepenuhnya dirancang oleh insinyur dan tenaga ahli Indonesia.
Sementara itu, pekerjaan pengangkatan struktur skybridge dilaksanakan oleh kontraktor China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) dengan dukungan teknologi serta peralatan dari China. Posisi skybridge nantinya berada pada bagian bangunan yang dirancang memiliki bukaan pada lapisan kulit atau selubung bangunan.
Keberhasilan pengangkatan struktur baja pada elevasi +117,6 meter nantinya tidak hanya menjadi bagian penting dari proses penyelesaian Indonesia 1. Tahapan tersebut juga menjadi representasi kemampuan rekayasa nasional dalam menangani pekerjaan konstruksi dengan tingkat kompleksitas dan presisi tinggi.
Davy menilai pencapaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa insinyur Indonesia memiliki kapasitas untuk merancang dan mengembangkan struktur pencakar langit dengan standar internasional, termasuk pada pekerjaan yang membutuhkan penguasaan teknologi konstruksi tingkat tinggi.















