IABEE – PII Raih Pengakuan Internasional Sydney Accord dan Dublin Accord

HeadlineNewsPress Release

Cape Town, Afrika Selatan (13/06/2026) – Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) sebuah badan dalam naungan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang menjalankan fungsi akreditasi pendidikan tinggi teknik dan keinsinyuran Indonesia untuk penyetaraan dengan standar global, kembali mendapatkan pengakuan internasional.

Dalam momentum International Engineering Alliance Meeting (IEAM) 2026 di Cape Town, Afrika Selatan, 7-12 Juni 2026, IABEE resmi memperoleh status Provisional Signatory Sydney Accord dan Provisional Signatory Dublin Accord.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia, Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ACPE., ASEAN Eng., APEC Eng. yang menghadiri IEAM 2026 di Cape Town, mewakili Ketua Umum PII Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU., ASEAN Eng. di sela-sela pertemuan insinyur sedunia tersebut.

“Pencapaian ini memperluas pengakuan Internasional terhadap sistem akreditasi pendidikan keteknikan Indonesia. Capaian ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pemangku kepentingan dalam membangun sistem penjaminan mutu pendidikan keteknikan yang kredibel, transparan, dan selaras dengan standar internasional,” kata Sekjen PII Teguh Haryono dalam keterangannya dari Cape Town, Afrika Selatan, Sabtu (13/06/2026).

Sydney Accord mengakui IABEE dalam hal kesetaraan substansial program pendidikan engineering technology, sedangkan Dublin Accord berfokus pada pengakuan program pendidikan untuk engineering technician. Kedua accord tersebut merupakan bagian dari kerangka pengakuan internasional yang mendukung kesetaraan mutu pendidikan teknik lintas negara.

“Status Provisional Signatory Sydney Accord dan Dublin Accord menunjukkan bahwa sistem akreditasi yang dikembangkan Indonesia telah mendapatkan pengakuan dan kepercayaan dari komunitas Internasional. Ini merupakan bukti bahwa kualitas tata kelola akreditasi pendidikan keteknikan Indonesia terus berkembang dan semakin sejajar dengan praktik terbaik dunia,” ujar Teguh menjelaskan.

Teguh menambahkan bahwa pencapaian ini memberikan manfaat strategis bagi perguruan tinggi, mahasiswa, lulusan, dan industri nasional. Pengakuan internasional yang semakin luas terhadap program-program terakreditasi IABEE akan membuka peluang lebih besar bagi kolaborasi akademik, mobilitas profesional, dan peningkatan daya saing lulusan Indonesia di tingkat global.

Ketua Komite Eksekutif IABEE, Prof. Dr. Ir. Muhammad Romli, IPU, menambahkan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan Internasionalisasi sistem akreditasi pendidikan keteknikan Indonesia.

“Dengan pencapaian ini, PII melalui IABEE telah memiliki reputasi internasional dalam penyelenggaraan akreditasi program studi pada lingkup keinsinyuran, yang meliputi program sarjana teknik, sarjana terapan teknik, dan diploma tiga teknik, serta lingkup computing / IT. Pengakuan ini juga menunjukkan bahwa mekanisme akreditasi yang diterapkan IABEE telah memenuhi prinsip-prinsip mutu yang diakui secara global,” ujar Prof. Romli.

Menurutnya, keberhasilan memperoleh status Provisional Signatory Sydney Accord dan Dublin Accord juga sekaligus  memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pendidikan teknik Internasional serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai lembaga akreditasi dan institusi pendidikan di berbagai negara.

“Dengan capaian terbaru ini, IABEE semakin memperkuat posisinya dalam jaringan pengakuan Internasional pendidikan keteknikan. Status provisional menjadi tahapan penting menuju pengakuan penuh (full signatory), yang mensyaratkan proses evaluasi dan pemantauan internasional secara berkelanjutan untuk memastikan konsistensi mutu dan tata kelola akreditasi,” kata Prof. Romli menambahkan.

Pada kesempatan itu Sekjen PII Teguh Haryono, atas nama PII dan IABEE di hadapan forum IEAM 2026, juga menyampaikan kesiapan Indonesia untuk menjadi tuan rumah International Engineering Alliance Meetings (IEAM) 2027 di Bali tahun depan.

“Di tengah tantangan global yang semakin kompleks — mulai dari perubahan iklim, transisi energi, transformasi digital, kecerdasan buatan, hingga pembangunan infrastruktur berkelanjutan — profesi insinyur dituntut untuk tidak hanya menghadirkan solusi teknis, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. PII dan IABEE berkomitmen selain menjadi tuan rumah IEAM 2027 tahun depan, dan menjadikan momentum tersebut sebagai bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi lebih aktif dalam pengembangan profesi keinsinyuran di tingkat global,” ujar Teguh dalam kesempatan berpidato di hadapan delegasi IEAM 2026, Cape Town, Afrika Selatan (12/06/2026).

IEAM merupakan forum Internasional yang mempertemukan organisasi profesi, lembaga akreditasi, regulator, dan institusi pendidikan teknik dari berbagai negara. Melalui forum ini, para pemangku kepentingan bersama-sama membangun standar, memperkuat quality assurance, serta mendorong pengakuan kompetensi dan mobilitas insinyur lintas negara.

Menurut Teguh, bagi Indonesia, keunggulan teknik harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab, integritas, dan nilai kemanusiaan. Infrastruktur bukan sekadar tentang apa yang dibangun, tetapi bagaimana hasil pembangunan tersebut meningkatkan kualitas hidup, memperkuat konektivitas, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Bali dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan IEAM 2027 karena menghadirkan perpaduan unik antara budaya, keberlanjutan, inovasi, dan keterbukaan terhadap dialog global. Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Indonesia siap menyambut para pemimpin dan profesional keinsinyuran dunia untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan berbagi pengalaman.

Back to top button