Girder Tol Jogja-Solo Disebut Rawan Roboh Saat Gempa, Begini Penjelasan Stabilitas Struktur Selama Konstruksi

News

Top Konstruksi – Pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo terus berlangsung dengan berbagai pekerjaan struktur yang menjadi bagian penting dalam mendukung konektivitas dan kelancaran transportasi di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Salah satu elemen yang mendapat perhatian adalah girder, yaitu komponen struktur utama yang berfungsi menopang bagian atas jembatan atau struktur jalan layang.

Melalui unggahan Instagram @jasamargajogjasolo_official bersama @pupr_bpjt Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), muncul pembahasan mengenai stabilitas girder Tol Jogja-Solo, khususnya terhadap kondisi gempa. Dalam unggahan tersebut terdapat pertanyaan, “Girder Tol Jogja-Solo Diduga Rawan Roboh Saat Gempa. Bagaimana Stabilitasnya?”

Pertanyaan tersebut menjadi penting mengingat girder yang berada dalam tahap konstruksi memiliki kondisi yang berbeda dibandingkan struktur yang telah selesai dan seluruh sistem pendukungnya telah bekerja secara utuh.

Pada paket 2.2 B Trihanggo-junction sleman jalan tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo, pekerjaan pada area yang belum terpasang diafragma wall berada di span P44-P45 dan P48-P49,  Tetapi pada area tersebut telah dipasang temporary bracing pada girder.

Source: Instagram @pupr_bpjt

Berdasarkan hasil perhitungan dari unggahan Instagram @Pupr_Bpjt girder memiliki kemampuan yang cukup untuk menahan gaya akibat gempa sehingga tetap stabil dan tidak ter guling. kemampuan menahannya 241,746 kNm sedangkan gaya yang menyebabkan terguling gempa 20,495 kNm. Sederhananya, kemampuan girder menahan gaya lebih besar daripada gaya yang dapat menyebabkan guling.

Dalam proses pembangunan, elemen-elemen struktur dipasang secara bertahap. Pada kondisi tersebut, selain elemen struktur utama, diperlukan pula pengamanan tambahan berupa bracing sementara. Bracing berfungsi membantu menjaga posisi girder agar tetap stabil selama proses konstruksi sebelum seluruh sistem struktur terpasang dan bekerja sebagaimana desain yang telah ditentukan.

Keberadaan bracing sementara menjadi salah satu bagian dari manajemen keselamatan konstruksi. Pengaman tersebut membantu mempertahankan posisi elemen struktur, terutama ketika struktur belum mencapai kondisi akhir. Dengan demikian, penggunaan bracing bukan berarti girder berada dalam kondisi tidak aman atau secara otomatis rawan roboh, melainkan merupakan bagian dari metode konstruksi untuk memastikan kestabilan selama tahapan pembangunan.

Stabilitas girder pada dasarnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari desain struktur, sistem tumpuan, sambungan, metode erection, kondisi lingkungan, hingga tahapan pekerjaan yang sedang berlangsung. Faktor beban, termasuk potensi pengaruh gempa, juga menjadi bagian yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan struktur.

Hal ini menunjukkan bahwa keamanan struktur tidak hanya ditentukan oleh satu komponen saja. Sistem struktur harus dilihat secara keseluruhan, termasuk hubungan antara girder, pier atau pilar, bearing, sambungan, serta elemen pengaku dan pengaman selama proses pelaksanaan.

Pembahasan mengenai girder Tol Jogja-Solo tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa tahap konstruksi merupakan fase yang membutuhkan perhatian khusus terhadap stabilitas struktur. Struktur yang masih dalam proses pemasangan belum tentu memiliki perilaku yang sama dengan struktur yang telah selesai sepenuhnya.

Oleh karena itu, penggunaan pengaman sementara seperti bracing menjadi bagian penting dalam memastikan setiap elemen tetap berada pada posisi yang direncanakan. Setelah seluruh komponen struktur terpasang dan sistem konstruksi mencapai kondisi akhir, mekanisme penyaluran beban akan bekerja sesuai rancangan.

Back to top button