Ketua HAKI Dorong Pembangunan Infrastruktur yang Tangguh dan Berkelanjutan di Indonesia

Sebuah gedung dapat berdiri kokoh selama puluhan tahun, tetapi tantangan yang dihadapinya tidak pernah berhenti. Seiring berjalannya waktu, ketahanannya terus diuji oleh berbagai macam kondisi.
Tantangan berupa bencana gempa, banjir, cuaca ekstrem, hingga perubahan iklim menjadi faktor yang secara perlahan menguji sejauh mana sebuah infrastruktur yang tampak kokoh benar-benar mampu beradaptasi dan bertahan menghadapi dinamika alam yang semakin sulit diprediksi di masa depan.
Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kompleksitas risiko bencana, ukuran keberhasilan pembangunan infrastruktur pun mulai bergeser.
Perubahan paradigma ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Prof. Iswandi Imran.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari beberapa sumber, Iswandi menyebut keberhasilan pembangunan infrastruktur tidak lagi dapat diukur hanya dari seberapa banyak proyek yang berhasil diselesaikan.
Tetapi menurutnya, aspek kualitas, keandalan, keselamatan, efisiensi, serta manfaat jangka panjang bagi masyarakat juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proyek pembangunan.
Hal tersebut menjadi bagian penting yang harus diperhitungkan sejak awal apalagi kebutuhan infrastruktur Indonesia kini semakin kompleks dihadapkan berbagai macam tantangan.
Terutama tantangan perubahan iklim yang sulit diprediksi dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat telah mendorong perubahan dalam dunia konstruksi.
Seiring dengan semakin kompleksnya tantangan pembangunan di Indonesia, para perencana dan pelaku industri konstruksi semakin cermat dalam menentukan desain dan standar pembangunan.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah perkembangan Peta Bahaya Gempa Indonesia yang diluncurkan pada tahun 2025. Peta tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah sesar yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan dan perancangan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi itu membuat aspek mitigasi risiko menjadi semakin penting. Sehingga perencana dan pelaku industri konstruksi perlu memahami potensi bahaya, tingkat kerentanan bangunan, hingga konsekuensi yang mungkin muncul apabila terjadi kerusakan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Iswandi menyoroti pentingnya penerapan konsep resilient design dan sustainable design dalam pembangunan.
Konsep Resilient Design
Resilient design berangkat dari pemahaman terhadap potensi bahaya yang dapat dihadapi sebuah bangunan, mulai dari gempa hingga kebakaran.
Perencana tidak hanya dituntut menghitung seberapa kuat struktur menahan beban, tetapi juga memperkirakan tingkat kerusakan, biaya perbaikan, serta waktu yang diperlukan agar bangunan dapat kembali berfungsi.
Dengan pendekatan tersebut, struktur yang baik bukan sekadar struktur yang mampu mencegah terjadinya kerusakan. Kemudahan perbaikan dan penggantian komponen ketika kerusakan terjadi juga menjadi pertimbangan penting.
Pilihan material dan sistem struktur dapat dirancang untuk membatasi kerusakan pada bagian tertentu sehingga tidak seluruh sistem harus mengalami perbaikan besar.
Sejumlah teknologi seperti seismic reducer, sacrificial element, sistem kontrol, dan base isolation, dapat digunakan untuk mengurangi kerusakan permanen dan menghasilkan perilaku struktur yang lebih mampu kembali ke kondisi fungsional.
Bagi Iswandi, tingkat resiliensi yang dibutuhkan juga bergantung pada fungsi dan kepentingan sebuah bangunan. Semakin besar tuntutan agar bangunan tetap beroperasi atau dapat segera kembali digunakan setelah bencana, semakin besar pula konsekuensi biaya yang perlu dipertimbangkan sejak awal.
Konsep Sustainable Design
Selain konsep Resilient design, konsep kedua yang disoroti Iswandi adalah sustainable design.
Kedua konsep tersebut memiliki keterkaitan yang erat. Sebab, Bangunan yang dapat diperbaiki dengan lebih mudah berpotensi mengurangi kebutuhan pembongkaran dan pembangunan kembali setelah mengalami kerusakan.
Oleh karena itu, prinsip sustainable design perlu dipertimbangkan sejak tahap awal perencanaan hingga akhir masa layanan bangunan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah embodied carbon, yakni emisi yang dihasilkan sepanjang siklus hidup sebuah bangunan, mulai dari penggunaan bahan baku hingga pembongkaran.
Dalam paparannya pada Seminar HAKI 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Iswandi menyebut sektor konstruksi berkontribusi sekitar 23% terhadap emisi karbon dunia. Kontribusi tersebut antara lain berasal dari beton sekitar 11%, baja 10%, dan aluminium sekitar 2%.
Upaya menekan emisi karena itu tidak hanya bergantung pada penggunaan material rendah karbon. Efisiensi desain, pemilihan material, serta penerapan teknologi yang membuat bangunan lebih awet dan mudah diperbaiki juga menjadi bagian dari strategi menuju konstruksi yang lebih berkelanjutan.
Belajar dari Pembangunan IKN
Penerapan prinsip infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan salah satunya tercermin dalam pengalaman HAKI mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
HAKI terlibat dalam membantu penyusunan konsep rancang bangun sejumlah gedung di IKN. Keterlibatan tersebut menjadi gambaran bagaimana aspek keberlanjutan dan ketahanan terhadap bencana semakin dipertimbangkan dalam merancang kawasan perkotaan masa depan.
Menurut Iswandi, konsep rancang bangun IKN yang dibantu HAKI mengedepankan aspek keberlanjutan dan ketahanan terhadap bencana. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa bangunan dan kawasan perkotaan tidak hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga harus mampu menghadapi tantangan yang dapat muncul dalam beberapa dekade mendatang.
Prinsip yang sama pada dasarnya tidak terbatas pada gedung. Jalan, jembatan, hingga kawasan perkotaan perlu memiliki tingkat ketahanan yang memadai agar tetap dapat menjalankan fungsinya ketika menghadapi kondisi ekstrem.
Tantangan tersebut juga berlaku pada sektor energi dan kelistrikan. Infrastruktur ketenagalistrikan memiliki posisi strategis karena menopang hampir seluruh aktivitas masyarakat dan perekonomian.
Pembangkit listrik, jaringan transmisi, gardu induk, jaringan distribusi, serta berbagai fasilitas pendukung merupakan aset vital yang keberlangsungannya sangat menentukan aktivitas industri, layanan publik, komunikasi, hingga kegiatan masyarakat sehari-hari.
Gangguan pada satu bagian infrastruktur kelistrikan dapat menimbulkan efek berantai ke berbagai sektor. Karena itu, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada penambahan kapasitas.
Keandalan sistem, ketahanan terhadap bencana, efisiensi energi, serta keberlanjutan perlu ditempatkan sebagai bagian dari satu kesatuan dalam perencanaan dan pembangunan.
Semangat tersebut sejalan dengan tema yang diangkat HAKI melalui seminar nasional “Advancing Sustainable and Resilient Buildings and Infrastructure Systems in Indonesia” pada Agustus 2026.
Dimana forum tersebut menjadi ruang untuk mendorong perhatian yang lebih besar terhadap pembangunan infrastruktur yang tidak hanya kuat, tetapi juga mampu beradaptasi, pulih dari gangguan, dan tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Dengan paradigma tersebut, pembangunan infrastruktur Indonesia diarahkan bukan sekadar menghasilkan aset fisik, melainkan membangun fondasi yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Keandalan, keselamatan, efisiensi, keberlanjutan, dan ketahanan bencana menjadi faktor yang semakin menentukan kualitas pembangunan nasional.
Profil Prof. Iswandi Imran
Mengutip informasi dari laman Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Ir. Iswandi Imran, M.A.Sc., Ph.D. merupakan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dikenal sebagai akademisi dan perekayasa di bidang rekayasa struktur.
Lahir di Medan pada 6 Desember 1963, Iswandi meraih gelar doktor pada 1994 di bidang Rekayasa Struktur dari Departemen Teknik Sipil, University of Toronto, Kanada.
Iswandi disebut ahli di bidang material dan konstruksi beton, termasuk konstruksi beton tahan gempa. Selain itu, Minat penelitian beliau meliputi assessment, repair, strengthening, dan retrofit bangunan serta jembatan eksisting, hingga desain material dan struktur berbasis kinerja.
Sebagai akademisi, Iswandi aktif menghasilkan buku dan publikasi ilmiah di jurnal nasional maupun internasional. Berdasarkan data yang tercantum dalam AD Scientific Index, ia tercatat sebagai periset peringkat pertama di bidang Teknik Sipil ITB dan masuk dalam kelompok 3% peneliti teratas bidang Teknik Sipil secara nasional.
Pengalamannya juga tidak terbatas pada lingkungan akademik. Iswandi juga terlibat dalam berbagai pekerjaan rekayasa di industri konstruksi nasional serta mengembangkan solusi untuk sejumlah persoalan desain yang bersifat khusus.
Pengalaman tersebut membuatnya dipercaya menjadi bagian dari sejumlah komite yang dibentuk Kementerian Pekerjaan Umum, termasuk Komite Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) serta Komite Keselamatan Konstruksi.
Iswandi juga aktif dalam penyusunan sejumlah Standar Nasional Indonesia (SNI), khususnya yang berkaitan dengan kegempaan, konstruksi beton, serta pemanfaatan material fiber reinforced polymer (FRP). Ia antara lain terlibat dalam SNI 1726 dan SNI 2833 mengenai kegempaan, SNI 2847 mengenai konstruksi beton, serta SNI 8970 hingga SNI 8975 mengenai pemanfaatan FRP pada konstruksi.
Saat ini, Iswandi juga terlibat dalam penyusunan rancangan SNI terkait evaluasi dan rehabilitasi seismik bangunan eksisting serta desain seismik struktur bangunan bawah tanah.
Pengalaman akademik, penelitian, dan praktik rekayasa tersebut memperkuat kiprahnya dalam pengembangan standar serta kebijakan konstruksi di Indonesia. Selain menjabat sebagai Ketua Umum HAKI, Iswandi juga dipercaya menjadi penasihat dan komisaris di sejumlah perusahaan konstruksi nasional.
Dengan latar belakang yang dimilikinya tersebut, pandangannya mengenai resilient design dan sustainable design menempatkan pembangunan infrastruktur dalam perspektif yang lebih luas: bukan sekadar membangun struktur yang kuat, tetapi memastikan aset tersebut tetap aman, andal, efisien, mudah dipulihkan, dan relevan menghadapi tantangan masa depan.















