Waskita Karya Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang untuk Dukung Pemulihan Pascabencana
PT Waskita Karya (Persero) Tbk tengah mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
Percepatan pembangunan ini dilakukan guna memastikan masyarakat terdampak segera memperoleh tempat tinggal sementara yang aman, layak, dan nyaman.
Untuk melihat sejauh mana progres konstruksi berjalan, Kepala BP BUMN Dony Oskaria bersama dengan Direktur Business Strategic, Portfolio & Human Capital Rudi Purnomo, Direktur Operasi II Paulus Budi Kartiko dan Plt. Direktur Marketing, Operasi & QHSE WKI Fatkhur Rozaq meninjau langsung proses pembangunan hunian sementara.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari beberapa sumber. Perseroan mengerahkan sumber daya secara optimal dengan melaksanakan pekerjaan konstruksi selama 24 jam tanpa henti. Sebanyak 80 unit huntara dibangun dan dirancang untuk memenuhi standar keselamatan serta kenyamanan bagi penghuninya.
Direktur Operasi II Waskita Karya, Paulus Budi Kartiko, menyampaikan bahwa keterlibatan perseroan dalam pembangunan huntara ini merupakan wujud sinergi bersama Danantara dan BP BUMN dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana di Aceh. Ia menuturkan bahwa seluruh insan Waskita di lapangan bekerja dengan dedikasi tinggi untuk mempercepat pemulihan kawasan Aceh Tamiang.
Paulus menjelaskan bahwa pembangunan huntara dilaksanakan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, sebanyak 30 unit hunian telah diselesaikan. Sementara itu, tahap kedua mencakup penyelesaian 50 unit huntara yang ditargetkan rampung pada pertengahan Januari 2026.
Selain membangun unit hunian berukuran 4,5 x 4,5 meter, Waskita Karya juga melengkapi kawasan tersebut dengan berbagai fasilitas pendukung. Fasilitas tersebut meliputi empat unit mandi, cuci, kakus (MCK) yang masing-masing memiliki lima bilik, dua unit sistem pengolahan air limbah atau sewage treatment plant (STP), satu unit musala berukuran 9 x 13,5 meter, serta area wudu seluas 6,6 x 13 meter. Perseroan juga membangun satu unit dapur umum berukuran 8 x 19 meter, delapan unit bangunan toren air, sistem drainase pracetak, serta instalasi mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP) kawasan.
Di samping itu, Waskita Karya turut membangun jalan pedestrian dan jalan akses di area huntara. Pembangunan infrastruktur penunjang ini ditujukan untuk memperbaiki aksesibilitas dan konektivitas kawasan, sehingga mobilitas warga serta distribusi logistik dapat berjalan dengan lancar selama masa pemulihan.
Paulus menegaskan bahwa perseroan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan terkait untuk mengawal proses pemulihan di wilayah terdampak bencana, khususnya di Aceh Tamiang. Waskita Karya berkomitmen untuk membantu masyarakat agar dapat segera bangkit dan kembali menjalani aktivitas secara normal.
Sebelumnya, emiten berkode saham WSKT tersebut juga telah menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan ke sejumlah posko bencana di wilayah Sumatra. Bantuan yang diberikan antara lain ratusan paket sembako, kasur lipat, selimut, tikar, perlengkapan bayi dan perempuan, perlengkapan mandi, serta pakaian untuk orang dewasa.
Selain bantuan logistik, Waskita Karya mengerahkan puluhan alat berat seperti excavator dan dump truck untuk membersihkan lumpur dan sampah, sekaligus membuka akses jalan yang tertutup akibat longsor. Perseroan juga mengoperasikan truk tangki air bersih untuk menyuplai kebutuhan air bersih masyarakat, mengingat ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak pascabencana.





